Kesalahpahaman umum tentang rehabilitasi ortopedi

  Nyeri, bengkak, kekakuan sendi, adhesi tendon, hilangnya sensasi atau hipersensitivitas, hilangnya kekuatan otot atau genggaman dan tidak digunakannya anggota tubuh adalah hal yang umum terjadi setelah bedah ortopedi umum. Mengapa bedah ortopedi yang berhasil masih menghasilkan hasil seperti itu? Hal ini karena kurangnya pengetahuan tentang rehabilitasi dan kurangnya rehabilitasi tepat waktu setelah operasi. Faktanya, banyak pasien, termasuk beberapa dokter, memiliki beberapa kesalahpahaman tentang rehabilitasi: Kesalahpahaman 1: Kurang memahami perlunya rehabilitasi Banyak pasien yang hanya menyadari perlunya pembedahan dan berpikir bahwa rehabilitasi bisa dilakukan atau tidak, sehingga mengakibatkan kekakuan sendi pasca-operasi, perlekatan tendon, kontraktur ligamen dan bahkan osteoartritis.  Mitos 2: Kurangnya pemahaman tentang perlunya terapi rehabilitasi yang komprehensif Sebagian pasien menyadari perlunya terapi rehabilitasi, tetapi mereka mengira bahwa ini hanyalah masalah “memanggang lampu dan memberinya listrik”. Bahkan, terapi rehabilitasi dalam pengertian biasa mencakup fisioterapi, terapi okupasi dan psikoterapi. Untuk pasien pasca operasi fraktur, diperlukan kombinasi terapi rehabilitasi yang berbeda.  Mitos 3: Terburu-buru untuk maju dan mengabaikan metode latihan olahraga yang benar Latihan olahraga untuk pasien setelah pembedahan, terutama pada tahap awal, harus dilakukan di bawah pengawasan dokter rehabilitasi atau terapis dengan bantuan prinsip tidak mempengaruhi stabilitas trauma dan tempat pembedahan. Dokter rehabilitasi atau terapis olahraga akan memutuskan durasi, intensitas dan frekuensi latihan olahraga, tergantung pada tingkat cedera pasien dan keadaan pembedahan. Sebagian pasien berolahraga terlalu dini atau terlalu banyak, atau bahkan menggunakan kekerasan untuk menggerakkan anggota tubuh yang terpengaruh, yang mengakibatkan fraktur atau pelat yang patah, atau cedera lainnya yang tidak dapat disembuhkan.  Kesalahpahaman 4: Mengabaikan pelatihan di luar klinik Seiring dengan kemajuan perawatan rehabilitasi, pelatihan di luar klinik secara bertahap meningkat. Sebagian besar pasien dapat menyelesaikan program pelatihan mereka di klinik di bawah bimbingan seorang terapis. Untuk pelatihan di luar klinik, seperti pelatihan jalan kaki, pasien kurang termotivasi dan merasa pelatihan itu membosankan dan tidak menaatinya.  Mitos 5: Ekspektasi yang tidak masuk akal Pasien ortopedi pasca-operasi memiliki pemulihan fungsional yang berbeda, tergantung pada cedera, pembedahan dan rehabilitasi. Secara umum, pemulihannya buruk untuk cedera yang kompleks. Banyak pasien akan mengalami gejala sisa, sebagian di antaranya dapat dipulihkan melalui rehabilitasi yang lebih lama, sementara sebagian lainnya akan tetap menyertai pasien seumur hidup. Pasien harus memiliki ekspektasi yang wajar mengenai kondisi objektif mereka.  Mitos 6: Perhatian berlebihan pada anggota tubuh yang terkena Perhatian berlebihan pada anggota tubuh yang terkena adalah masalah yang tak terelakkan bagi hampir setiap pasien, yang merugikan pengendalian nyeri pasca-operasi dan penyesuaian psikologis. Sebagian pasien memperlakukan anggota tubuh yang terkena dampak sebagai pusat kehidupan mereka dan khawatir tentang pergeseran fraktur dan pecahnya tendon pada rasa sakit sekecil apa pun, khawatir sepanjang hari dan bahkan mengalami delusi dan bahkan gejala kejiwaan.  Mitos 7: Mengabaikan regulasi psikologis diri sendiri Cedera ortopedi terjadi sangat tiba-tiba dan dapat dengan mudah menyebabkan trauma psikologis yang serius pada pasien. Pasien sering merasa khawatir dan cemas karena tidak dapat melanjutkan pekerjaan normal, kehidupan dan masa depan mereka sendiri, dan menderita suasana hati yang rendah, harga diri yang rendah, kehilangan kepercayaan diri dalam hidup dan bahkan pikiran-pikiran ringan. Oleh karena itu, rehabilitasi psikologis memainkan peran yang sangat penting dalam rehabilitasi fungsional, dan hanya ketika pasien telah pulih sepenuhnya secara psikologis, rehabilitasi fungsional dapat memiliki efek yang diinginkan.