Diagnosis inkontinensia urin stres didasarkan pada gejala subjektif dan pemeriksaan objektif. Diagnosis terutama terdiri dari diagnosis definitif dan diagnosis derajat. (i) Menentukan diagnosis Tujuan: Untuk menentukan ada tidaknya inkontinensia urin stres. Dasar utama: riwayat medis dan pemeriksaan fisik. 1. Riwayat: gejala kebocoran urin yang berhubungan dengan peningkatan tekanan perut seperti bersin, batuk, tertawa, dan olahraga, yaitu “batuk dan bocor, tidak batuk dan tidak bocor”. 2. Pemeriksaan fisik: pemeriksaan umum, termasuk kemampuan kognitif, aktivitas fisik dan koordinasi; pemeriksaan neurologis yang relevan, termasuk kekuatan otot tungkai bawah, sensasi perineum dan pemeriksaan tonus sfingter anus; pemeriksaan spesialis harus mencakup adanya infeksi pada vulva, keberadaan dan luasnya prolaps organ panggul, tes yang diinduksi oleh tekanan, pemeriksaan urin rutin, dan kultur bakteriologis urin jika dicurigai adanya infeksi; pemeriksaan tambahan harus mencakup Pengukuran laju aliran urin dan sisa urin. Ketika inkontinensia stres disertai dengan kesulitan berkemih atau gejala kandung kemih yang terlalu aktif seperti frekuensi dan urgensi berkemih, maka pemeriksaan urodinamik diperlukan untuk memperjelas status fungsional vesikouretra; buku harian berkemih selama 72 jam secara terus menerus dicatat dan skor ICI-Q-SF dapat membantu mengevaluasi tingkat keparahan gejala inkontinensia. 3. Untuk menegakkan diagnosis, penyakit lain perlu disingkirkan. Jika pasien juga mengalami gejala-gejala berkemih seperti frekuensi, urgensi, nyeri berkemih, peningkatan nokturia dan hematuria, maka perlu dipertimbangkan kemungkinan adanya kandung kemih yang terlalu aktif, infeksi saluran kemih, dan sistitis interstisial; jika pasien juga mengalami kesulitan berkemih, maka perlu dipertimbangkan kemungkinan adanya sumbatan leher kandung kemih atau lemahnya kontraksi otot pemaksa kandung kemih; adanya prolaps organ dasar panggul juga perlu diperiksa dan didiagnosis pada saat yang bersamaan. (ii) Diagnosis derajat Tujuan: Untuk menentukan derajat inkontinensia urin akibat stres dan untuk memberikan dasar bagi pilihan pengobatan. Ringan: tidak ada inkontinensia saat beraktivitas umum dan pada malam hari, sesekali inkontinensia saat tekanan perut meningkat, tidak perlu memakai pembalut kemih, tidak mempengaruhi kehidupan dan aktivitas sosial pasien; Sedang: sering mengalami inkontinensia saat tekanan perut meningkat dan saat aktivitas berdiri, perlu memakai pembalut kemih, mempengaruhi kehidupan dan aktivitas sosial pasien; Parah: inkontinensia saat beraktivitas berdiri atau saat berbaring dengan posisi yang berubah-ubah, sangat mempengaruhi kehidupan dan aktivitas sosial pasien; Berat: inkontinensia saat beraktivitas berdiri atau berbaring dengan posisi yang berubah-ubah, mempengaruhi kehidupan dan aktivitas sosial pasien. Kehidupan dan aktivitas sosial pasien sangat terpengaruh. 2. Penilaian berdasarkan tes pembalut Kenakan pembalut kering yang telah ditimbang sebelumnya dan ukur berat pembalut setelah 1 jam: penambahan berat kurang dari 1g dianggap ringan; penambahan berat antara 1g hingga 10g dianggap sedang; penambahan berat antara 10g hingga 50g dianggap berat; penambahan berat lebih dari 50g dianggap sangat berat.