Apakah Anda tahu tentang penyakit aorta?

Aneurisma aorta abdominalis terutama terjadi pada lansia di atas 60 tahun, sering dikaitkan dengan hipertensi dan penyakit jantung, tetapi pada orang muda juga dapat terjadi sesekali. Prevalensi aneurisma aorta abdominalis yang tinggi dan bahayanya: Aneurisma aorta abdominalis termasuk dalam penyakit dilatasi lokal arteri, yang merupakan hasil dari ekspansi abnormal dan pembesaran dinding arteri secara lokal, dan aneurisma aorta abdominalis dapat didiagnosis ketika diameter aorta abdominalis lebih dari 3 cm. Prevalensi aneurisma aorta abdominalis mencapai 63%-79% dari aneurisma aorta. Sebagian besar aneurisma aorta abdominalis disebabkan oleh aterosklerosis dan umumnya terletak di bagian distal arteri renalis, meluas ke percabangan aorta abdominalis, dan sering mempengaruhi arteri iliaka, dan kadang-kadang terletak di daerah di atas arteri renalis, yang juga dikenal sebagai aneurisma aorta torakalis dan abdomen. Sebagian besar aneurisma aorta abdominalis tidak menunjukkan gejala, dan banyak pasien menemukan massa berdenyut sentral di perut tanpa disengaja atau selama pemeriksaan fisik. Oleh karena itu, pemeriksaan aorta dan arteri perifer secara teratur harus dilakukan pada kelompok berisiko tinggi, seperti orang tua, perokok, dan mereka yang memiliki penyakit aterosklerosis. Ultrasonografi nadi adalah metode pemeriksaan yang paling sederhana, nyaman, ekonomis dan non-invasif. Metode ini dapat mencapai deteksi dini dan diagnosis dini serta pengobatan tepat waktu. Komplikasi yang paling umum dari aneurisma aorta abdominalis adalah: pecahnya aneurisma, emboli organ distal dan kompresi organ yang berdekatan. Aneurisma aorta abdominalis seperti bom waktu di dalam tubuh, sekali pecah, angka kematiannya mencapai 50%-80%. Apakah aneurisma aorta abdominalis dapat pecah secara langsung berkaitan dengan ukuran diameter aneurisma. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa: bila diameter aneurisma kurang dari 4 cm, kejadian pecahnya adalah 10%; bila diameter aneurisma lebih dari 5 cm dan kurang dari 10 cm, kejadian pecahnya adalah 30% – 50%. Bila diameter tumor lebih besar dari 10 cm, insiden ruptur adalah 80%. Oleh karena itu, standar klinis saat ini untuk perawatan bedah adalah diameter tumor 5 cm. Namun, meskipun tumornya kecil, ruptur akut masih mungkin terjadi. Oleh karena itu, pasien dengan aneurisma aorta abdominalis harus dioperasi sesegera mungkin. Pasien dengan aneurisma kecil harus menjalani pencitraan secara teratur (misalnya, USG), dan jika aneurisma cenderung bertambah besar, disarankan agar intervensi dini dan agresif dilakukan untuk mengurangi tingkat pecahnya aneurisma aorta abdominalis dan mortalitas, dan untuk meningkatkan prognosis pasien, untuk mencegah konsekuensi serius.