1. Rehabilitasi harus dilakukan sedini mungkin, pasien dengan stroke akut, selama mereka jelas, tanda-tanda vital mereka stabil, tekanan darah mereka stabil dan kondisinya tidak lagi berkembang, latihan rehabilitasi fungsional dapat dilakukan setelah 48 jam. Inti dari rehabilitasi untuk pasien stroke akut adalah “belajar, berolahraga, berolahraga lagi, dan belajar lagi”, yang mengharuskan pasien untuk memahami dan berpartisipasi secara aktif. Pada tahap akut, latihan rehabilitasi terutama untuk menekan refleks primitif yang abnormal dan membangun kembali pola gerakan normal, diikuti dengan latihan kekuatan otot. 3. Rehabilitasi harus sejalan dengan pengobatan Stroke akut ditandai dengan “koeksistensi gangguan dan penyakit”, dan program individual diadopsi untuk kemajuan bertahap. Selain rehabilitasi motorik, perhatian juga harus diberikan pada rehabilitasi bicara, kognitif, psikologis, pekerjaan dan sosial. Beberapa obat, seperti bromokriptin, telah terbukti efektif dalam memulihkan gerakan anggota tubuh dan kemampuan bicara, sedangkan baclofen efektif dalam menekan spastisitas, dimulai dengan dosis kecil, dan dapat digunakan secara opsional. Colistin, prazosin, natrium fenitoin, valium, fenobarbital, dan haloperidol memiliki efek buruk pada pergerakan pada fase akut dan oleh karena itu harus digunakan dengan hemat atau tidak sama sekali. 4. Tekankan bahwa rehabilitasi adalah proses yang berkelanjutan Amati dengan seksama pasien stroke akut untuk mengetahui adanya depresi dan kecemasan, karena hal ini dapat sangat mempengaruhi perilaku dan keberhasilan rehabilitasi. Pentingnya rehabilitasi komunitas dan keluarga harus ditekankan.