Diagnosis tumor mediastinum primer

Kadang-kadang sulit untuk membedakan tumor mediastinum secara morfologis dari tumor paru primer atau sekunder, pembesaran kelenjar getah bening dan hemangioma. Metode pemeriksaan yang umum digunakan adalah sebagai berikut: 1. Pemeriksaan sinar-X: fluoroskopi fluoresensi menemukan bahwa tumor memiliki denyut, dan harus diklarifikasi terlebih dahulu apakah denyut tersebut merupakan denyut dilatasi atau konduksi. Jika yang terjadi adalah dilatasi, maka dapat dicurigai adanya aneurisma pada awalnya, yang dapat dikonfirmasi dengan radiografi sinar-X atau angiografi. Jika tumor mediastinum bagian atas bergerak ke atas saat menelan pada fluoroskopi sinar-X, awalnya dapat didiagnosis sebagai tumor tiroid. Film sinar-X polos, film bertingkat, atau film bertegangan tinggi pada posisi depan, samping dan miring dapat memperjelas lokasi, bentuk, kepadatan, kalsifikasi atau pengerasan tumor, sehingga dapat membuat penilaian awal mengenai jenis tumor. Barium menelan esofagus dapat digunakan untuk mengetahui apakah esofagus atau organ yang berdekatan tertekan. 2. Bronkoskopi serat optik atau esofagoskopi serat optik: dapat membantu memperjelas situasi dan tingkat tekanan bronkus, apakah tumor telah menginvasi bronkus atau kerongkongan, sehingga dapat memperkirakan kemungkinan reseksi bedah. 3 . Pneumotoraks diagnostik: dapat menentukan apakah tumor terjadi di dinding dada atau paru-paru, di dalam atau di luar paru-paru. Pneumotoraks diagnostik dapat membedakan faktor subfrenik, seperti hernia diafragma. 4, Pneumografi mediastinum: sangat membantu untuk menunjukkan morfologi tumor mediastinum anterior dan mengklarifikasi apakah ada metastasis kelenjar getah bening mediastinum. 5, Mediastinoskopi: Sangat membantu untuk mengklarifikasi apakah ada pembesaran kelenjar getah bening di bawah paratrakeal dan pantat, dan melakukan biopsi untuk memperjelas diagnosis etiologi. 6 . Tomografi komputer elektronik: penerapan CT untuk memeriksa tumor mediastinum anterior, pembesaran kelenjar getah bening, lesi jaringan lemak mediastinum lebih dapat diandalkan daripada metode pemeriksaan sinar-X lainnya. keakuratan diagnosis CT untuk tumor mediastinum dan pembesaran kelenjar getah bening dapat mencapai lebih dari 90%. 7 . Pencitraan resonansi magnetik: memiliki keuntungan sebagai berikut: banyak parameter pencitraan; resolusi tinggi dari jaringan lunak; arah lapisan potong yang fleksibel; tidak ada artefak tulang pada gambar; aman dan dapat diandalkan, tidak ada kerusakan radiasi pengion. Pemeriksaan ini unik dalam mendiagnosis tumor mediastinum. 8 . Biopsi kelenjar getah bening serviks: TBC kelenjar getah bening bronkial dan limfoma sering kali disertai dengan keterlibatan kelenjar getah bening perifer dan kelenjar getah bening serviks, dan biopsi sangat membantu untuk diagnosis. 9 . Pemeriksaan radioisotop: jika ada kecurigaan gondok intratoraks, pemindaian yodium radionuklida 131 dapat dilakukan, yang membantu diagnosis gondok ektopik dan tumor tiroid. 10 . Radioterapi diagnostik: bila dicurigai adanya limfoma ganas dan tidak dikonfirmasi dengan pemeriksaan lain, radioterapi dapat dicoba. Limfoma ganas lebih sensitif terhadap radiasi, dengan penyinaran 20-30Gy (2000-3000rad), tumor akan menyusut dengan cepat. Operasi sesar: jika sifat tumor tidak jelas setelah berbagai pemeriksaan, tetapi limfoma ganas disingkirkan, di bawah izin kondisi sistemik, operasi sesar dapat dilakukan.