Akumulasi pengalaman dalam bedah trauma dada berkembang seiring dengan perang, dan selama Perang Dunia Pertama, konsep dasar dan metode penanganan pneumotoraks, hemotoraks, dan abses ditetapkan ketika pertama kali diketahui bahwa pneumotoraks, hemotoraks, dan abses merupakan penyebab penting kematian pada masa perang. Perang Dunia Kedua memberikan pemahaman yang jauh lebih baik dalam menjaga integritas struktur fisiologis normal dan, sebagai hasilnya, pendekatan yang lebih fisiologis terhadap pengobatan trauma dada. Sebagai contoh, luka trauma dada terbuka ditutup dan drainase dada tertutup dilakukan dengan cepat untuk memungkinkan paru-paru yang mengalami atrofi mengembang dengan cepat dan menjalankan fungsi fisiologis normal untuk ventilasi dan pertukaran udara; dinding dada yang mengambang dipasang untuk mencegah pernapasan paradoks; sekresi trakea dan bronkus dikeluarkan dan jalan napas dijaga tetap terbuka melalui intubasi trakea atau trakeotomi. Teknik-teknik ini sederhana dan mudah dilakukan serta memainkan peran yang sangat positif dalam menyelamatkan nyawa para korban yang terluka dalam peperangan pada masa itu. Pada Perang Dunia Kedua, Brewer pertama kali mendeskripsikan konsep ‘paru-paru basah traumatik’ sebagai respons paru-paru terhadap peningkatan volume darah selama trauma parah pada otak, paru-paru, perut dan anggota tubuh, dan pada tahun 1944 menghasilkan ventilator tekanan positif intermiten, yang efektif dalam mengobati edema paru yang terkait dengan semua jenis trauma. Brewer dan rekan-rekannya juga membakukan indikasi dan teknik operasi untuk pleurodesis, mengembangkan manajemen bedah pecahan peluru intra-toraks dan benda asing, serta mengklarifikasi pentingnya antibiotik pada kasus trauma dada dan infeksi intra-toraks.