Sudah menjadi kepercayaan umum bahwa diet seimbang dan olahraga yang tepat adalah yang dibutuhkan untuk membangun tubuh yang sehat dan mengesankan. Faktanya, siklus asupan kalori dan konsumsi kalori hanyalah salah satu aspek dalam mempertahankan berat badan standar, dan faktor lain seperti gaya hidup dan pengobatan juga memiliki dampak yang signifikan terhadap berat badan. Faktor “tersembunyi”: keluarga dan teman Pakar Universitas Harvard menunjukkan bahwa pola makan dan rentang aktivitas kita yang biasa dipengaruhi oleh lingkungan sekitar, sehingga tidak dapat dipungkiri bahwa lingkungan keluarga, lingkungan pertemanan menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi perubahan berat badan kita. Jika pasangan mengalami obesitas, maka peluang kita untuk mengalami kenaikan berat badan akan meningkat sebesar 35%, sementara saudara kandung mengalami obesitas, peluang untuk mengalami kenaikan berat badan akan meningkat sebesar 40%, dan yang mengejutkan, jika teman baik mengalami kelebihan berat badan, peluang kita untuk mengalami kenaikan berat badan mencapai 57%. Lingkungan keluarga dan lingkaran pertemanan menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi perubahan berat badan kita. Jadi, lain kali jika Anda menyadari lingkar pinggang Anda semakin tebal, Anda bisa menyalahkan orang tua atau pacar Anda. Menurut direktur ABC News Medical Channel, perilaku sehari-hari seseorang secara tidak sadar dipengaruhi oleh orang-orang di sekitarnya dan lingkungan tempat mereka tinggal, dan biasanya, kita bahkan tidak berpikir untuk melakukan perubahan. Misalnya, kantor Anda mengadakan detoksifikasi ulang tahun dua kali seminggu, dan itu tampaknya menjadi bagian dari hidup Anda, jadi meskipun Anda sedang berusaha menurunkan berat badan, Anda tidak dapat menahan diri untuk tidak melakukan subversi terhadap hasil penurunan berat badan Anda dengan aktivitas yang tidak Anda sadari ini. Faktor “tersembunyi” 2: obat-obatan Obat-obatan memiliki dampak 5% terhadap obesitas Sebuah penelitian terbaru oleh Weill Cornell Medical Center di New York menemukan bahwa obat-obatan memiliki dampak 5% terhadap obesitas. Meskipun efek ini hanya sebagian kecil, namun mengingat jutaan orang di Amerika Serikat saat ini mengonsumsi obat resep, maka dampak obat terhadap kenaikan berat badan tidak bisa dianggap remeh. Selain itu, orang yang mengonsumsi obat anti alergi, anti infeksi, penyakit jantung, diabetes, depresi, dan obat yang berhubungan dengan kanker setiap hari memiliki dampak terbesar terhadap kenaikan berat badan. Meskipun para ilmuwan tidak dapat sepenuhnya menjelaskan alasan mengapa obat menyebabkan kenaikan berat badan, mereka percaya bahwa minum obat dapat menyebabkan retensi cairan, mengganggu mekanisme metabolisme, dan bahkan memengaruhi enzim yang merangsang nafsu makan. Faktor “tersembunyi” 3: polutan kimia Lebih dari 40 jenis bahan kimia lingkungan telah diidentifikasi sebagai zat “obesitas” Saat ini ada lebih dari 40 jenis bahan kimia lingkungan yang telah diidentifikasi sebagai zat “obesitas”. Polutan yang terkandung dalam lukisan, plastik, wallpaper, tekstil, dan ubin lantai tertentu dapat menyebabkan berat badan bertambah dan bahkan meningkatkan kadar insulin dalam tubuh. Polutan lingkungan yang persisten seperti pestisida DDT, dioksin, dan benzena juga telah diidentifikasi sebagai pemicu obesitas dan diabetes tipe II. Mengapa polutan kimia juga menyebabkan kenaikan berat badan? Bahan kimia di udara, tanah, dan air minum berpengaruh pada bakteri yang masuk ke dalam saluran pencernaan. Para ilmuwan percaya bahwa bakteri usus ini mengganggu penurunan berat badan dengan mengubah sintesisnya, sehingga menyebabkan kenaikan berat badan dan peningkatan insulin dalam tubuh. Faktor “tersembunyi” 4: tidur Kualitas tidur tidak secara langsung mempengaruhi berat badan Penelitian menemukan bahwa kualitas tidur tidak secara langsung mempengaruhi berat badan, tetapi kurang tidur yang serius akan membuat berat badan meningkat secara signifikan. Universitas Columbia melakukan penelitian tentang kebiasaan tidur, hasilnya menemukan bahwa malam kurang dari 4 jam tidur, kemungkinan kenaikan berat badan dari 7-9 jam tidur adalah 73% lebih tinggi; dan tidur 6 jam semalam, kemungkinan obesitas dari 7-9 jam orang yang tinggi, 23% lebih tinggi. Beberapa penelitian menemukan bahwa kelelahan yang berlebihan, leptin tubuh akan sangat berkurang, dan leptin adalah hormon protein yang dikeluarkan oleh sel-sel lemak, dalam pengaturan keseimbangan energi, perilaku makan memainkan peran penting. Demikian pula, kurang tidur juga akan merangsang insulin, sehingga menyebabkan obesitas dan diabetes tipe II. Faktor “tersembunyi” 5: virus Tubuh yang mengandung lemak berat badan populasi virus lebih banyak dibandingkan dengan berat badan orang yang terinfeksi virus. Pada akhir tahun 1980-an, para peneliti menemukan bahwa ayam yang terserang virus tertentu, meskipun tidak makan terlalu banyak, berat badannya akan tetap bertambah. Mereka juga menemukan berbagai jenis virus lain yang menyebabkan tikus, kucing, anjing, dan babi mengalami kenaikan berat badan. Ada juga beberapa bukti tentang hubungan antara patogen virus manusia dan obesitas. Meskipun hubungan langsung antara infeksi virus dan penambahan berat badan belum jelas, pengamatan mikroskopis terhadap semua virus dan antibodinya dalam pembuluh darah manusia yang terinfeksi telah menunjukkan bahwa orang dengan virus adiposa dalam tubuhnya mengalami kenaikan berat badan lebih banyak daripada mereka yang tidak terinfeksi virus.