Mengapa bayi mengalami anoreksia

  Anoreksia pada anak merupakan manifestasi pertama dan terutama dari perilaku makan yang tidak normal, yang mungkin disertai atau tidak disertai dengan kelainan pada fungsi saluran cerna. Selain penyakit infeksi akut dan kronis serta obat-obatan, penyebabnya juga berkaitan dengan metode pemberian makan, kebiasaan makan, psikososial, lingkungan sosial, dan lingkungan alam.  1, tidak menambahkan makanan pendamping tepat waktu Beberapa penelitian telah mengkonfirmasi bahwa bayi memiliki periode sensitivitas yang berbeda untuk penambahan makanan pendamping, dengan periode sensitivitas rasa pada masa bayi pada usia 4-6 bulan dan periode sensitivitas tekstur makanan pada masa bayi pada usia 6-7 bulan. skussD dkk. percaya bahwa jika periode ini tidak diberikan berbagai rasa dan tekstur makanan, bayi sering kali menolak untuk makan rasa baru dan tekstur makanan yang berbeda setelah usia satu tahun, yang mengakibatkan makan parsial dan resep yang monoton. Beberapa orang di Tiongkok telah menganalisis hubungan antara pemberian makanan tradisional dan anoreksia pada anak-anak dan menemukan bahwa sering menyusui selama masa bayi, menyapih pada usia yang terlalu tua, menambahkan makanan tambahan terlalu terlambat, dan varietas serta metode yang tidak tepat dapat membuat anak-anak mengalami anoreksia pada usia satu tahun.  2. Penyakit dan obat-obatan Sebagian besar penyakit dapat menyebabkan nafsu makan anak menurun. Anoreksia sangat menonjol pada kasus gastroenteritis, tukak lambung, hepatitis, atau TBC. Ketika seorang anak sakit dan mengalami demam, fungsi pencernaan dan penyerapan dapat berkurang, sehingga menyebabkan kurangnya nafsu makan. Nafsu makan yang berkurang juga dapat disebabkan oleh infeksi parasit usus, konstipasi kronis, atau diet rendah garam karena penyakit ginjal. Setelah mengonsumsi beberapa obat (seperti eritromisin dan sulfonamid), stimulasi mukosa lambung dapat menyebabkan anoreksia, sakit perut, mual dan muntah, dll. Selain itu, jika anak diberi terlalu banyak tablet kalsium, vitamin A atau D, anak juga dapat mengalami penurunan nafsu makan.  3. Kebiasaan makan yang buruk atau struktur diet yang tidak masuk akal Anak-anak biasanya diberi lebih banyak makanan ringan, terlalu banyak minuman dingin dan minuman di musim panas dan makanan yang tidak teratur, dan orang tua terlalu memperhatikan pola makan anak-anak mereka. Beberapa orang tua terlalu memanjakan anak-anak mereka, dan proporsi protein (telur, daging, susu) atau gula (permen, cokelat, dll.) Dalam struktur makanan terlalu besar, yang tidak hanya menyebabkan anak-anak menjadi pemakan parsial dan pilih-pilih, tetapi juga menyebabkan pencernaan pencernaan dan disfungsi penyerapan.  4, faktor mental Sistem saraf pusat dipengaruhi oleh rangsangan yang merugikan dari lingkungan internal dan eksternal tubuh manusia, melalui reaksi visceral dari sistem saraf simpatik untuk membuat pengaturan fungsi pencernaan tidak seimbang sehingga menyebabkan hilangnya nafsu makan. Anak-anak mengalami rangsangan psikologis yang merugikan, seperti ketakutan, ketakutan dan ketegangan, yang dapat menyebabkan gangguan pencernaan dan kehilangan nafsu makan; orang tua terlalu menuntut anak-anak mereka, membatasi kegiatan anak-anak mereka, seperti melarang mereka bermain dengan anak-anak lain, menegur mereka sebelum makan dan di meja makan, yang semuanya akan mempengaruhi suasana hati dan nafsu makan mereka; ketika anak-anak kehilangan nafsu makan mereka, mereka menggunakan cara-cara pemaksaan atau intimidasi untuk memaksa mereka untuk makan, yang sering menyebabkan mereka menjadi pemberontak dan menolak untuk makan. Anak sering menolak untuk makan.  Cuaca terlalu panas atau kelembapan terlalu tinggi, yang dapat mempengaruhi fungsi pengaturan saraf dan sekresi cairan pencernaan dan menyebabkan anak kehilangan nafsu makan. Oleh karena itu, fenomena nafsu makan yang buruk terlihat jelas di musim panas, yang juga dikenal sebagai anoreksia musim panas.  6, vitamin B, elemen jejak defisiensi seng defisiensi seng mempengaruhi sintesis asam nukleat dan protein, sehingga mempengaruhi sintesis elemen rasa. Kekurangan vitamin B juga dapat menyebabkan penurunan fungsi pengecapan pada anak dan fungsi pencernaan mukosa lambung, sehingga anak kehilangan nafsu makan dan kemampuan pencernaan.  Singkatnya, faktor-faktor yang berkontribusi terhadap perkembangan anoreksia pediatrik berasal dari faktor internal dan eksternal, yaitu makanan dan lingkungan. Nafsu makan yang baik adalah salah satu ciri khas kesehatan anak, dan anoreksia yang berkepanjangan pasti akan memengaruhi perkembangan fisik dan intelektual anak. Penting untuk memahami penyebab anoreksia pediatrik agar penyakit ini dapat dikontrol sedini mungkin dan dicegah sebelum terjadi.