I. Ikhtisar Sindrom Tourette Anak adalah gangguan neuropsikiatri kronis yang juga dikenal sebagai polidipsia. Ini adalah gangguan tic yang ditandai dengan kedutan yang tiba-tiba, tidak disengaja, disertai dengan semburan vokalisasi dan bahasa cabul. Hal ini lebih umum terjadi pada pria, dengan sebagian besar pasien mulai antara usia 4 dan 12 tahun. Pasien sering kali memiliki beberapa komorbiditas, seperti gangguan hiperaktif defisit perhatian (ADHD), gangguan obsesif-kompulsif (OCD) dan masalah perilaku. Etiologi penyakit ini belum dijelaskan, tetapi penelitian terbaru menunjukkan bahwa hal ini mungkin merupakan hasil interaksi faktor genetik, neurofisiologis, biokimia-metabolik dan lingkungan dalam proses perkembangan. Manifestasi klinis Sindrom tics dan kata-kata kotor ditandai dengan tics otot yang tidak disengaja, tiba-tiba, cepat dan berulang-ulang, sering kali disertai dengan vokalisasi dan kata-kata kotor yang kasar dan tidak disengaja. Kedutan dimulai di wajah dan leher dan secara bertahap menyebar ke bawah. Kedutan bisa mengambil berbagai bentuk, seperti berkedip, menyipitkan mata, mencibir, menggelengkan kepala, mengangkat bahu, mengecilkan leher, merentangkan lengan, melambaikan lengan, mengangkat dada, membengkokkan punggung, dan memutar batang tubuh. Tics vokal dapat berupa suara parau dan geraman, yang secara bertahap dapat berubah menjadi sumpah serapah stereotip dan pernyataan cabul. Pada sebagian anak, kedutan yang tidak disengaja diikuti oleh gangguan motorik bicara, dan dalam beberapa kasus, peniruan ucapan, gerakan dan ekspresi. Permulaan kedutan laring involunter terlambat, dengan sejumlah kecil muncul lebih awal dan sebagian besar muncul enam sampai tujuh tahun setelah onset penyakit. Kondisi ini sering berfluktuasi, terkadang menjadi ringan dan parah, dan terkadang sembuh dengan sendirinya untuk jangka waktu tertentu. Lokasi, frekuensi dan intensitas kedutan bisa berubah. Hal ini dapat memburuk ketika anak stres, cemas, lelah, atau kurang tidur, dan dapat berkurang ketika anak rileks dan menghilang setelah tidur. Kecerdasan anak pada umumnya normal, tetapi beberapa anak mungkin memiliki masalah psikologis seperti kurangnya perhatian, kesulitan belajar dan gangguan emosional. IV. Pemeriksaan Hasil tes laboratorium umum tidak khusus. EEG dan pencitraan otak seperti CT otak dan MRI harus dilakukan untuk memahami dan menyingkirkan lesi otak. Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan riwayat dan gejala klinis, tetapi chorea, hepatomegali, kejang mioklonik epilepsi, gerakan tak sadar yang diinduksi oleh obat, dan lesi ekstravertebral lainnya harus disingkirkan. Obat-obatan utama yang digunakan untuk membantu anak pulih adalah haloperidol, thiopiridol, dan obat-obatan lainnya. Seperti haloperidol, thiopride, colistin patch, inosine, vitamin, dll. 2. Psikoterapi: Efek buruk dari penyakit ini pada kepribadian sangat umum terjadi, dan beberapa anak tidak dapat beradaptasi dengan masyarakat bahkan setelah tics mereka terkontrol. Inilah sebabnya, mengapa penekanan harus diberikan pada pengobatan psikologis bersama dengan pengobatan simtomatik penyebabnya. Perawatan psikologis meliputi terapi perilaku, konseling suportif dan terapi keluarga. Orang tua dan guru harus dibantu untuk memahami sifat dan karakteristik penyakit, dan untuk mengurangi atau menghilangkan kekhawatiran dan kecemasan orang tua. Mengatur rutinitas dan aktivitas harian anak secara wajar untuk menghindari stres dan kelelahan yang berlebihan. Untuk anak-anak dengan tics vokal, mulut tertutup dan pernapasan perut dalam yang lambat dan berirama dapat digunakan untuk mengurangi gejala tics.