Elektroensefalografi (EEG) sangat bermanfaat dalam diagnosis dan diagnosis banding epilepsi, dan merupakan pemeriksaan tambahan yang sangat diperlukan untuk diagnosis epilepsi. Namun, sekitar 5-20 persen pasien epilepsi memiliki EEG normal selama periode interiktal; selain itu, karena durasi pendek topografi EEG biasa dan EEG konvensional, gelombang pelepasan epilepsi tidak dapat ditangkap. Oleh karena itu, diagnosis epilepsi tidak dapat dikesampingkan secara klinis hanya karena EEG normal, tetapi dokter harus menggabungkan riwayat medis dan manifestasi kejang klinis dengan analisis yang komprehensif untuk membuat diagnosis yang benar.