Stroke adalah penyakit akut, begitu stroke terjadi, tidak tepat waktu pengobatan pasien yang serius akan mengancam jiwa, kita harus segera pergi ke rumah sakit untuk mengobati stroke, untuk memulihkan kesehatan dengan lebih baik setelah keluar, pasien dapat mengkonsolidasikan pengobatan melalui pelatihan rehabilitasi, lalu bagaimana cara melakukan pelatihan rehabilitasi? Ini adalah pertanyaan yang ingin diketahui oleh para pasien, jadi kami akan menjelaskannya secara singkat di bawah ini. Latihan rehabilitasi untuk stroke hemiplegia: 1. Terapi olahraga: Terapi olahraga adalah istilah umum untuk metode pengobatan untuk memperbaiki gangguan gerakan melalui latihan aktif dan pasif. Ini terutama mencakup pelatihan mobilitas sendi, pelatihan penguatan otot, pelatihan koreksi postur tubuh dan terapi neurofisiologis. Sekitar 80% pasien dengan penyakit serebrovaskular mengalami defisit motorik yang bervariasi, terutama pada pola kejang hemiplegia, yaitu pola kejang yang sering kita lihat dengan tungkai atas tertekuk dan tungkai bawah diluruskan. Selama fase rawat jalan penyakit serebrovaskular, perubahan postur tubuh, gerakan pasif, pemeliharaan posisi tungkai yang baik dan latihan duduk terutama dilakukan untuk mengurangi komplikasi seperti luka tekan dan kontraktur sendi serta meletakkan dasar yang baik untuk pelatihan rehabilitasi di masa depan. Untuk meningkatkan fungsi motorik, kombinasi teknik terapeutik dan terapi pembelajaran ulang motorik sering digunakan untuk memulihkan gerakan anggota tubuh. 2. Terapi okupasi: Terapi okupasi adalah penggunaan aktivitas pekerjaan yang dipilih dan terarah sebagai alat terapi untuk meningkatkan dan menambah fungsi pasien. Tujuannya adalah untuk memaksimalkan kemampuan pasien dalam merawat diri sendiri, bekerja, bersantai dan aktivitas kehidupan sehari-hari lainnya, serta meningkatkan kualitas hidup, yang ideal bagi pasien untuk kembali ke keluarga dan masyarakat. Hal ini terutama mencakup evaluasi dan pelatihan gangguan fungsional, pelatihan kognitif dan persepsi, evaluasi dan pelatihan kemampuan hidup sehari-hari, pemilihan dan produksi alat bantu bantu diri, desain dan panduan modifikasi lingkungan, resep kursi roda, dll. Terapi ini didasarkan pada prinsip-prinsip teori yang sama dengan kinesioterapi, tetapi berbeda karena melibatkan desain gerakan yang diperlukan oleh anggota tubuh sebagai aktivitas kerja, seperti penggunaan tembikar untuk melatih gerakan jari-jari halus, yang tidak hanya meningkatkan minat pasien, tetapi juga meningkatkan kemampuan pasien untuk hidup. Sekitar 22-32% penderita hemiplegia mengalami kesulitan bicara dan bahasa, sehingga pelatihan bahasa sangat penting. Pelatih bahasa harus terlebih dahulu mendiagnosa jenis gangguan sesuai dengan kondisi bahasa pasien dan lokasi lesi, lalu menggunakan metode yang berbeda untuk memicu dan memperkuat respons bahasa yang benar melalui rangsangan pendengaran, visual, dan sentuhan. Cacat fisik dan gangguan fungsional sering kali menyebabkan kesulitan psikologis seperti kecemasan dan depresi, dan penyakit itu sendiri dapat menyebabkan gangguan kognitif dalam hal memori, perhatian dan orientasi. Psikoterapi yang efektif dapat meningkatkan kemampuan belajar dan partisipasi aktif pasien. 3, terapi fisik dan budaya: terapi fisik dan budaya adalah penggunaan program olahraga dan rekreasi bagi pasien untuk dilatih, sehingga pasien dapat meningkatkan keterampilan fisik mereka, meningkatkan, dan dapat meningkatkan kondisi psikologis yang buruk dengan suatu metode. Hal ini memiliki efek yang kurang dihargai pada gerakan fisik, kebugaran fisik dan penciptaan kondisi psikologis yang baik. Keterampilan menggunakan kursi roda, senam hemiplegia, dan berbagai permainan bola adalah komponen utama. 4. Fisioterapi: Fisioterapi tradisional juga memiliki peran khusus dalam rehabilitasi hemiplegia. Secara khusus, terapi latihan akuatik digunakan untuk memudahkan anggota tubuh pasien menyelesaikan gerakan yang benar di dalam air melalui daya apung air dan efek lainnya.