Ketika tiba-tiba terpapar sinar matahari yang intens, terutama pada bulan-bulan musim panas, kulit pasien heliotropik akut dapat mengalami kekurangan perlindungan, memicu peradangan kulit akut di mana kulit yang rusak menjadi merah, bengkak, gatal dan disertai dengan sensasi terbakar. Kulit juga dapat menjadi merah, bengkak, gatal, dan ruam pada beberapa orang ketika terpapar sinar matahari yang tidak terlalu kuat. Dikenal sebagai dermatosis alergi matahari, lesi dapat muncul pada kulit yang terpapar pada wajah, punggung tangan, leher dan segitiga dada serta lengan bawah, dengan sensasi terbakar dan gatal. Kondisi ini memburuk di musim panas. Oleh karena itu, orang yang bekerja di luar ruangan dalam jangka waktu yang lama harus melakukan tindakan pencegahan untuk menghindari paparan sinar matahari yang terlalu lama, membawa pelindung matahari dan mengoleskan tabir surya saat keluar rumah. Orang yang terpapar sinar matahari dalam jangka waktu yang lama sering mengalami penyakit ini, sehingga dermatitis matahari kronis biasanya ditemukan pada petani paruh baya dan lebih tua, nelayan, awak kapal, dan pekerja di luar ruangan lainnya. Pasien dengan dermatitis matahari kronis memiliki kulit kering, atrofi, berkerut, bintik-bintik berpigmen, dan bercak-bercak atrofi berwarna putih pucat. Beberapa orang juga mengalami ruam, biasanya pada wajah, telinga, punggung tangan dan lengan bawah. Bulan-bulan musim panas adalah waktu puncak untuk dermatitis matahari dan pencegahan tepat waktu adalah kuncinya. Jika kulit terbakar akibat dermatitis matahari sangat parah, disertai mual, muntah, jantung berdebar, dan gejala sistemik lainnya, Anda harus segera berobat ke rumah sakit. Hindari aktivitas di luar ruangan atau kurangi durasi aktivitas antara pukul 10.00 hingga 14.00 ketika sinar matahari paling kuat. Tabir surya yang sangat efektif dengan SPF 30 atau lebih tinggi direkomendasikan.