Menghitung tiga “aspek negatif” dari menjadi pecandu gula

Data terakhir menunjukkan bahwa penderita diabetes di Tiongkok telah mencapai 92,4 juta orang, sementara populasi pra-diabetes juga telah mencapai 150 juta orang. Dalam kelompok pasien yang begitu besar, tidak sulit untuk menemukan bahwa banyak pasien karena kurangnya pengetahuan tentang diabetes itu sendiri, kurangnya pendidikan yang relevan, dan bahkan berpeluang membabi buta mencari obat untuk “obat yang baik”, hasilnya seringkali kontraproduktif, dan bahkan menimbulkan konsekuensi yang serius. 1, tipe setengah pengetahuan Setelah menderita diabetes, staf medis sering memberi tahu pasien bahwa diabetes perlu mengontrol pola makan sehari-hari, mengontrol total asupan kalori harian, kebutuhan untuk melakukan diet rendah minyak, lebih sedikit garam, dan banyak prinsip lainnya. Pasien dengan diabetes yang disebut “setengah matang” sering kali tidak mendapat edukasi tentang prinsip-prinsip ini. Beberapa pasien akan menerapkan prinsip-prinsip ini secara ekstrem, dengan memasukkan jumlah kalori dan porsi yang tepat dalam setiap kali makan, dan menghabiskan banyak energi setiap hari untuk mengukur pola makan mereka dengan tepat. Tidak diragukan lagi, ini adalah cara yang terlalu berlebihan dan sangat mengurangi kualitas hidup. Dalam hal olahraga, pasien yang “setengah tahu” sering kali mendapat edukasi tentang diabetes dan perlunya berolahraga lebih banyak. Akibatnya, pasien-pasien ini cenderung berolahraga tanpa memperhatikan waktu, misalnya, di pagi hari dengan perut kosong setelah bangun tidur, yang sangat meningkatkan risiko hipoglikemia. Ada juga beberapa pasien gabungan penyakit kardiovaskular dan serebrovaskular tidak memilih waktu untuk melakukan olahraga berat, akibatnya memicu angina pektoris, infark miokard, dll., yang berakibat pada konsekuensi yang serius. 2 . Pengiklan yang mudah tertipu Karena diabetes adalah penyakit kronis seumur hidup, beberapa pengusaha yang tidak bermoral akan memanfaatkan mentalitas kebetulan pasien dan meluncurkan berbagai produk palsu dan jelek yang mengklaim dapat menyembuhkan diabetes. Para “pengiklan yang mudah tertipu” akan sering bersikap mencoba-coba, karena terpedaya oleh iklan-iklan palsu atau menyesatkan. Karena bahan dari iklan palsu ini tidak jelas, pasien cenderung mengalami berbagai konsekuensi yang merugikan setelah menggunakannya dengan gegabah. 3. “Tipe penyembuhan delusi” “Pasien tipe penyembuhan delusi” sering bertanya kepada teman atau tetangga mereka tentang pengobatan, dan mereka berharap dapat mencoba semua jenis obat dan teknologi baru yang dapat menyembuhkan diabetes secara total. Terapi sel punca” dan “transplantasi pulau”, yang sering terlihat di media dan di internet, adalah target umum untuk pasien ini. Meskipun banyak iklan yang mengklaim bahwa kedua jenis teknologi ini dapat menyembuhkan diabetes, pasien harus menyadari bahwa teknologi ini, terutama terapi sel punca, masih dalam tahap penelitian dan belum dikonfirmasi oleh kedokteran berbasis bukti skala besar. Sebelumnya, Cabang Diabetes dari Asosiasi Medis Tiongkok juga mengeluarkan peraturan yang relevan: terapi sel punca tidak dapat digunakan untuk pengobatan klinis, dan bahkan percobaan sukarela oleh pasien tidak dapat dikenakan biaya untuk operasi terkait. Kini, para peneliti diabetes di seluruh dunia berkomitmen untuk menaklukkan diabetes atau mengembangkan perawatan medis yang lebih mudah. Namun pada kenyataannya, sejauh ini, satu-satunya cara untuk menyembuhkan diabetes adalah dengan mengubah kebiasaan buruk pada tahap awal diabetes, mengontrol kadar glukosa darah secara ketat, dan beberapa pasien dapat membalikkan diabetes tanpa menggunakan obat-obatan.