Susu dan telur terkadang bisa menjadi pembunuh bayi.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kejadian penyakit alergi secara global meningkat dari tahun ke tahun. Oleh karena itu, Departemen Gastroenterologi Pediatrik Rumah Sakit Afiliasi Ketiga Universitas Zhengzhou telah mengumpulkan beberapa pengetahuan yang berkaitan dengan alergi makanan untuk dibagikan kepada Anda, agar lebih banyak orang dapat memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai alergi makanan seperti susu dan telur, dan mencegah timbulnya penyakit sejak awal. 1. Apa itu alergi protein susu? Alergi protein susu sapi mengacu pada reaksi imunologis tubuh terhadap satu atau beberapa komponen protein dalam susu sapi, dan secara klinis ditandai dengan gejala yang berulang, seperti eksim, kulit gatal, kulit memerah, diare, muntah, menangis, dan batuk. Alergi protein susu juga dapat terjadi pada bayi dan anak kecil yang mendapatkan ASI eksklusif atau makanan campuran (ketika susu dikonsumsi). 2 . Mengapa protein susu menyebabkan alergi? Alasan mengapa alergi protein susu terjadi, terutama terkait dengan faktor-faktor berikut: ① faktor genetik: seperti riwayat alergi dalam keluarga. ② faktor lingkungan: penyalahgunaan antibiotik, disinfektan, dll.. ③Paparan dini: pemberian susu secara dini, dll. ④ Status kekebalan tubuh: bayi baru lahir, fungsi pencernaan belum matang, pencernaan protein asing yang tertelan belum sempurna, sehingga mengakibatkan reaksi alergi terhadap protein susu. 3 . Bagaimana cara menilai terjadinya alergi makanan pada bayi? Setelah bayi mengalami alergi makanan (termasuk alergi protein susu), gejala-gejala berikut ini sering muncul: (1) gejala kulit: seperti eksim, gatal-gatal, edema perioral. Gejala pencernaan: seperti diare, sembelit, muntah, refluks, sakit perut, menangis, tidak mau menyusu, feses berdarah, kurang gizi, pertumbuhan terhambat. Gejala pernapasan: seperti suara serak, mengi, sesak napas, dll. Untuk mencegah kecelakaan, silakan pergi ke rumah sakit tepat waktu, pemeriksaan fisik bayi, di bawah bimbingan staf medis untuk mencatat buku harian diet dengan cermat, dan bekerja sama dengan dokter untuk mengklarifikasi apakah protein susu merupakan alergen, atau untuk menyingkirkan penyakit lain. 4 . Makanan lain apa yang mudah menyebabkan alergi? Menurut statistik Organisasi Kesehatan Dunia, delapan jenis makanan berikut ini rentan menyebabkan alergi makanan: susu, telur, kedelai, gandum, ikan, udang, kacang tanah dan kacang-kacangan. 5. Bagaimana cara mendiagnosis alergi makanan pada bayi? Standar baku yang direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia untuk menentukan alergi makanan adalah: penghindaran makanan + uji cukit makanan. Oleh karena itu, bayi dan ibu yang dicurigai memiliki alergi makanan diharuskan untuk menghindari makanan yang dicurigai alergi dan diduga alergi selama 2-4 minggu, membuat catatan diet, dan kemudian pergi ke rumah sakit untuk menjalani tes provokasi makanan dengan dokter untuk membuat diagnosis yang jelas. 6. Bagaimana cara membuat buku harian diet? Ikuti petunjuk dokter untuk mengisi rincian waktu makan ibu dan bayi, makanan yang dikonsumsi, waktu ketika bayi mengalami gejala dan gejalanya. Anda harus membuat buku harian makanan setidaknya selama 2 minggu. Untuk mengetahui jenis makanan apa yang membuat bayi Anda alergi sesegera mungkin, orang tua harus bekerja sama dengan dokter sesuai dengan persyaratan berikut: (1) Untuk pemberian ASI eksklusif: Ibu harus menghindari makanan yang membuat bayi Anda alergi atau dicurigai alergi selama 2-4 minggu. Selama periode penghindaran, ibu dapat mengonsumsi makanan hipoalergenik seperti nasi, sayuran hijau, ayam, daging babi, dan buah-buahan musiman sambil mengonsumsi suplemen kalsium. Namun, sangat penting untuk membuat catatan harian diet. ② Bagi mereka yang diberi susu formula (disebut juga susu formula buatan): pilihlah susu formula bubuk hipoalergenik atau susu formula bubuk non-alergi, dll. sebagai pengganti makanan sesuai dengan saran medis dokter. Sebelum beralih ke susu formula biasa, lakukanlah tes rangsangan makanan. ③ Pemberian makanan campuran (yaitu ASI + makanan buatan): pola makan ibu seperti yang dijelaskan pada ① di atas, dan pola makan bayi seperti yang dijelaskan pada ② di atas. 7.Bagaimana cara menambahkan makanan pendamping ASI untuk bayi yang alergi makanan? Karena bayi mengalami alergi, untuk menghindari sindrom alergi yang parah, seperti anafilaksis, edema laring, dll., Bayi harus diberikan makanan pendamping ASI sesuai dengan pedoman berikut. Untuk bayi yang menambahkan makanan pendamping ASI harus mengikuti prinsip-prinsip berikut: (1) menyusui, ibu pertama yang menambahkan bayi yang dicurigai alergi atau makanan alergi, menyusui bayi, seperti bayi tidak merasa tidak nyaman, dilanjutkan selama 1-2 minggu, dapat diasumsikan bahwa bayi dapat mentolerir makanan, dan kemudian menambah bayi. ② Untuk makanan pengganti ASI, tes provokasi makanan harus dilakukan sebelum menambahkan makanan yang dicurigai membuat bayi alergi atau hipersensitif. ③Menambahkan makanan apapun, harus mengikuti: dari yang sedikit ke yang banyak, dari yang encer ke yang kental, dari yang halus ke yang kasar, biasakan diri Anda dengan suatu makanan sebelum menambahkan makanan lain. Sementara itu, makanan harus ditambahkan ketika bayi sehat dan memiliki fungsi pencernaan yang normal. 8. Bagaimana cara mengobati dan mencegah alergi makanan? Setelah alergi makanan didiagnosis, menghindari/pantang makanan tersebut adalah pengobatan yang paling penting. Dokter juga akan memberikan pengobatan gejala yang tepat sesuai dengan tingkat keparahan penyakit. Sebagai contoh, alergi protein susu, proses penghindaran/pantang memerlukan: ① Ibu dan bayi harus tidak mengonsumsi susu dan produk lain yang mengandung susu. Hindari susu kambing, susu kedelai, dll. sebagai makanan pengganti susu sapi untuk mencegah alergi silang. Orang tua harus membaca label makanan dengan cermat untuk memahami komposisi makanan. Cegah konsumsi makanan lain yang mengandung susu sapi secara tidak sengaja. ④ Sesuaikan jenis makanan sesuai dengan saran medis.