Faktor-faktor apa saja yang terkait dengan perkembangan neurosis

  Neurosis, juga dikenal sebagai neurosis, adalah sekelompok gangguan fungsional non-psikotik. Ciri-cirinya adalah: merupakan kelompok gangguan psikogenik di mana faktor kepribadian dan psikososial merupakan faktor penyebab utama, tetapi bukan gangguan stres; merupakan kelompok gangguan fungsional, yang bersifat fungsional dan non-organik; neurosis umumnya tidak memiliki gejala psikotik yang jelas atau menetap, pasien mengalami distres tentang penyakitnya, dan faktor psikososial serta kepribadian pra-morbid berperan dalam perkembangan gangguan neurotik. Gangguan ini memiliki beberapa dasar sifat kepribadian tetapi bukan gangguan kepribadian, dan setiap subtipe memiliki fase klinis yang khas, seperti obsesif-kompulsif, depresi, kecemasan, fobia, dll. Neurosis bersifat reversibel, diperburuk oleh stres eksogen dan sebaliknya gejala-gejala berkurang atau hilang; fungsi sosial relatif baik dan kesadaran diri memadai.  Pasien dengan neurosis cenderung sentimental, sensitif dan curiga, konservatif, stereotip, pesimis, dendam, menarik diri, dll. Pada kenyataannya, mereka tidak menangani hubungan interpersonal dengan baik, tidak mengevaluasi sesuatu secara obyektif, juga rentan terhadap konflik psikologis, memiliki cara yang belum matang dalam mengatasi masalah, tidak pandai berfungsi sebagai sistem pendukung sosial, dan bersedia untuk mengaitkan lebih banyak penyebab dengan dunia luar daripada menemukan penyebabnya di dalam diri mereka sendiri, sehingga pasien merasa sengsara dan sering mempengaruhi kualitas hidup.  Perkembangan neurosis terkait dengan lingkungan keluarga dan gaya pengasuhan, jika lingkungan keluarga tidak harmonis, tidak penuh kasih sayang, dingin dan kritis. Jika lingkungan keluarga tidak harmonis, penuh kasih, acuh tak acuh, dan kritis, anak tidak akan belajar bagaimana mencintai orang lain dan tidak akan mampu menangani hubungan, yang dapat dengan mudah menyebabkan kekacauan antarpribadi. Jika orang tua bersikap manja atau terlalu ketat atau memanjakan atau lalai dalam gaya pengasuhan mereka, anak cenderung mengembangkan cacat kepribadian. Sebagai contoh, banyak anak tunggal yang diperlakukan seperti “kaisar kecil” oleh anggota keluarga mereka, yang menghasilkan kepribadian yang berubah-ubah, egois, kasar, dan tidak toleran, yang dapat menyebabkan masalah dalam hubungan interpersonal dan gaya koping, dan dapat dengan mudah menyebabkan neurosis. Mereka juga rentan terhadap rasa gugup, takut, penakut dan kurang percaya diri, yang juga dapat menyebabkan neurosis.  Oleh karena itu, orang dewasa harus berusaha semaksimal mungkin untuk menciptakan lingkungan keluarga yang hangat, penuh kasih sayang, harmonis, dan santai!