Dalam beberapa tahun terakhir ini, praktik lokal yang menggunakan lembar uji laboratorium rumah sakit yang sama untuk rumah sakit di wilayah tersebut telah diadopsi, yang telah membangkitkan keprihatinan dari berbagai pembaca. Pertanyaan apakah slip lab bisa bersifat universal adalah pertanyaan yang kompleks dan tidak dapat didefinisikan secara kaku. Pertama-tama, kita harus memahami proses yang digunakan dokter untuk mendiagnosis suatu penyakit. Hal terpenting yang harus dilakukan dokter dalam mendiagnosis suatu penyakit adalah pertama-tama memahami masalah utama pasien, atau apa yang kita sebut sebagai tanda dan gejalanya, misalnya, apakah itu sakit kepala atau sakit perut, demam atau malaise, muntah atau diare. Tubuh pasien kemudian diperiksa secara cermat dengan harapan dapat mendeteksi beberapa tanda abnormal dan, melalui pengetahuan medis dan pengalaman klinis, menganalisis kemungkinan bahwa pasien mengidap suatu penyakit. Beberapa tes laboratorium (misalnya, tes laboratorium, ultrasonografi, CT, dll.) kemudian diperlukan untuk mengkonfirmasi lebih lanjut kemungkinan adanya penyakit. Apabila hasil tes laboratorium cocok dengan penilaian klinis dokter, dokter akan membuat diagnosis yang tepat; jika hasil tes tidak cocok dengan penilaian dokter, alasan lebih lanjut akan diidentifikasi atau diagnosis akan direvisi untuk terus meningkatkan keakuratan diagnosis. Sebagian pasien memiliki tanda dan gejala yang lebih jelas dan spesifik, dan beberapa tes sederhana dapat membuat diagnosis yang benar. Misalnya, jika pasien terlihat jelas minum berlebihan, poliuria, dan lesu, dan glukosa darahnya tinggi setelah beberapa kali tes di rumah sakit lain, diagnosis diabetes sudah ditegakkan dan tidak perlu diulang; jika glukosa darahnya normal setelah beberapa kali tes di rumah sakit lain, maka perlu diperiksa lagi untuk memastikannya. Selain itu, jarang ada tes laboratorium atau diagnosis yang 100% akurat dalam praktik klinis. Karena sensitivitas instrumen pengujian laboratorium yang berbeda, metode yang berbeda dan nilai normal yang berbeda, tes dari satu tempat tidak berlaku di daerah lain. Misalnya, jumlah yodium yang dikonsumsi oleh populasi bervariasi dari satu tempat ke tempat lain, dan tingkat penyerapan tiroid bervariasi dari satu tempat ke tempat lain, seperti halnya nilai normal. Selain itu, karena dokter memiliki pengalaman yang berbeda, mereka akan menganalisis hasil tes secara berbeda, sehingga terkadang dokter perlu mengulang tes dari rumah sakit lain. Kadang-kadang, meskipun diagnosisnya jelas, namun perlu dikonfirmasi dan direvisi selama pengobatan atau tindak lanjut, yang memerlukan tes laboratorium lebih lanjut untuk mengamati kondisi dan hasil pengobatan pada waktu yang tepat. Dalam kasus seperti itu, apakah tes laboratorium dari rumah sakit lain akan membantu dalam diagnosis dan pengobatan, perlu dianalisis berdasarkan pasien per pasien.