Orang tua harus terlebih dahulu memiliki pemahaman yang jelas mengenai kesehatan fisik dan situasi sekolah anak. Lakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh jika perlu: anak-anak yang menolak untuk pergi ke sekolah sering mengeluh sakit kepala, sakit perut, atau gejala fisik lainnya, dan pemeriksaan fisik mungkin diperlukan. 2. Keyakinan untuk bersekolah: Jika Anda memiliki keraguan tentang sekolah anak Anda, kami sarankan Anda menghubungi dan mendiskusikan masalah ini dengan staf sekolah. Ketika Anda yakin akan kemampuan anak Anda untuk bersekolah, ia juga akan memiliki kepercayaan diri untuk bersekolah. Strategi Orang Tua untuk Mengatur Anak yang Menolak Pergi ke Sekolah Dalam kebanyakan kasus, upaya orang tua untuk mengatur anak yang menolak pergi ke sekolah akan menghasilkan tangisan, penghindaran, dan amukan. Alasan utama dari perilaku ini adalah ketakutan anak untuk pergi ke sekolah. Oleh karena itu, kunci dari masalah ini adalah membantu anak Anda menghadapi dan mengatasi ketakutannya. 1. Kurangi daya tarik “rumah”: Ketika seorang anak belajar dan tinggal di rumah, ia pasti mendapatkan “keuntungan” dari keluar dari lingkungan sekolah yang “menakutkan” dan kembali ke keakraban rumah. Mereka dapat melarikan diri dari lingkungan sekolah yang “menakutkan” dan kembali ke rumah yang sudah dikenalnya, dan mereka juga bisa mendapatkan “hadiah” seperti TV, komputer, lemari es, hewan peliharaan, permainan dan mainan, dll. Oleh karena itu, penggunaan dan akses ke barang-barang di atas sangat dilarang selama jam sekolah. Berikan perintah yang jelas kepada anak Anda untuk pergi ke sekolah: Penting untuk memiliki pendekatan yang kuat untuk membantu anak Anda pergi ke sekolah. Instruksi yang jelas dan tenang seperti “bangun” dan “berpakaian” adalah salah satu cara terkuat untuk membantu anak Anda, dan pendekatan yang tegas dan penuh perhatian dapat meningkatkan rasa aman anak Anda. Abaikan keluhan sakit, tangisan, dan pembangkangan: Ketika Anda memaksa anak Anda untuk pergi ke sekolah, semua hal di atas dapat terjadi kapan saja, dan Anda harus mengabaikan penghindaran anak Anda untuk pergi ke sekolah dengan cara apa pun, misalnya, anak Anda mungkin menentang Anda dengan lebih keras, mengamuk, atau bahkan mempermainkan anak Anda. Namun, tunjukkan pada anak Anda bahwa Anda percaya pada kemampuannya untuk belajar! Dengan begitu, tidak ada keraguan lagi bahwa ia akan pergi ke sekolah! 4. Tingkatkan kepercayaan diri anak Anda: Orang tua adalah panutan penting dalam kehidupan anak-anak mereka. Ketika orang tua menunjukkan sikap rileks, tenang, dan pengendalian diri yang baik, anak akan menirunya dan hal ini akan membantunya mengatasi rasa takut dan cemas. 5. Persiapan ke sekolah: Malam sebelum sekolah, dorong anak Anda untuk menyiapkan tas sekolah dan seragamnya, serta pastikan ia tiba di sekolah tepat waktu. Berikan anak Anda jam weker untuk membantunya bangun tepat waktu. Jika anak Anda menolak untuk bangun, Anda dapat mengambil tindakan yang tepat, seperti menarik tirai dan membuka selimutnya. 6. Temani anak Anda ke sekolah: Idealnya, dua orang dewasa harus menemani anak Anda ke sekolah pada saat yang sama, sebaiknya orang tua, anggota keluarga, atau teman. Tentu saja anak mungkin akan menolak, tetapi Anda dapat mengabaikannya dan membuat pengaturan yang tegas untuk pergi ke sekolah. 7. Tinggalkan anak di sekolah: Datanglah ke sekolah tepat waktu dan titipkan anak kepada guru yang bersangkutan. Ungkapkan keyakinan Anda secara singkat, tegas, dan tenang bahwa anak Anda akan mampu menghadapi kesulitan (di sekolah) sendiri. Ucapkan “selamat tinggal” dan pergilah dengan tenang. Jika anak Anda gugup, menangis, atau memohon agar Anda tidak pergi, tetaplah tenang dan pergilah dengan tegas. Menangani Anak yang Melarikan Diri: Jika anak Anda melarikan diri, kuncinya adalah segera membawanya kembali ke sekolah. Jika orang tua tidak dapat mengembalikan anak mereka ke sekolah, mereka dapat mengandalkan kerabat atau teman untuk bekerja sama membantu anak mereka kembali ke sekolah dengan segera. 9. Komunikasi yang efektif dan nada suara yang tepat dapat membantu membangun kepercayaan diri anak Anda, dan sebaliknya dapat berdampak langsung pada kepercayaan diri Anda terhadap kemampuan anak Anda untuk menghadapi kesulitan dan ketakutan.