Di klinik pediatrik, kami sering menjumpai anak-anak berusia 2 tahun yang berbicara seperti “buku surgawi” dan tidak dapat dimengerti oleh orang lain, tetapi setelah diperiksa, anak tersebut tidak memiliki masalah IQ dan tidak memiliki kelainan organik apa pun. Alasannya adalah karena anak tersebut telah “meminum” makanan. Apa yang terjadi? Bahasa bergantung pada perkembangan organ artikulatoris, organ pendengaran, dan fungsi otak. Organ-organ perkembangan tersebut tidak mengalami kelainan secara morfologis maupun fungsional, namun jika tidak dilatih secara memadai, hal ini dapat menyebabkan disartria, yang dapat mengakibatkan kesalahan dalam menyusun suara dan ucapan yang tidak jelas, sehingga sulit dimengerti oleh orang lain. Selama masa bayi, pengenalan makanan pendamping ASI yang tidak tepat dan kurangnya pelatihan keterampilan motorik oral yang tepat dapat memengaruhi kemampuan bayi untuk mengunyah dan menelan di masa depan, serta gerakan lidah yang tidak fleksibel, dan bahkan memengaruhi pengucapan normal anak. Ternyata “meminum” makanan sepanjang waktu juga dapat menyebabkan disartria. Oleh karena itu, penting untuk menyesuaikan pola makan anak Anda pada waktu yang tepat selama proses pemberian makan. Orang tua harus mengizinkan anak-anak pada tahap yang berbeda untuk makan makanan yang berbeda dan memberi mereka kesempatan untuk belajar dan berlatih untuk makan, daripada memberi mereka makanan yang konstan untuk “menghemat” atau “menjadi pintar”. Hal ini dapat menyebabkan masalah seperti terlambat bicara atau disartria.