Tujuan: Untuk menyelidiki penerapan operasi fusi oksipitoservikal yang dimodifikasi pada operasi revisi tulang belakang leher bagian atas. Metode: Dari Juni 2002 hingga Januari 2006, 11 pasien yang memerlukan operasi ulang setelah operasi tulang belakang leher bagian atas karena ketidakstabilan leher bagian atas, kompresi saraf tulang belakang leher yang tersisa, atau kambuhnya tumor dirawat dengan sekrup fusi okipitoservikal yang dikembangkan sendiri yang dikombinasikan dengan sistem fiksasi okipitoservikal sekrup pedikularis. 9 pasien ditindaklanjuti, dan penyakit utamanya termasuk kelainan fusi okipitoservikal bawaan pada 3 kasus, tumor tulang belakang leher bagian atas pada 2 kasus, TBC tulang belakang leher bagian atas pada 2 kasus, dan depresi dasar tengkorak pada 2 kasus. Dua kasus tumor tulang belakang leher bagian atas, dua kasus tuberkulosis tulang belakang leher bagian atas, dan dua kasus depresi dasar tengkorak. Evaluasi neurologis pra operasi dan pasca operasi dilakukan dengan menggunakan kriteria penilaian Frankel, dan fusi dievaluasi berdasarkan radiografi pasca operasi pada saat operasi dan pada saat tindak lanjut. Hasil: Tidak ada cedera neurologis atau vaskular intraoperatif. Pada masa tindak lanjut rata-rata 25 bulan dari 7 hingga 28 bulan, kesembilan pasien telah mencapai fusi osseus tanpa komplikasi seperti kerusakan kuku atau kegagalan fiksasi internal. Kesimpulan: Fiksator oksipitoservikal yang terdiri dari sekrup penghalang pelat oksipital dan sekrup pedikel serviks memiliki efek fiksasi yang kuat, dan merupakan suplemen untuk operasi fusi oksipitoservikal konvensional. Sangat cocok untuk pasien yang perlu dibuka kembali untuk lesi segmental serviks bagian atas karena ketidakstabilan vertebra serviks bagian atas dan kompresi pulpa serviks residual setelah operasi pertama, terutama untuk pasien dengan defek tulang oksipital, tulang tipis pada dasar tengkorak, dan osteoporosis.