Cara membaca laporan air mani rutin – tingkat malformasi sperma

Baik itu tes proaktif untuk persiapan pra-konsepsi atau tes reaktif untuk masalah kesuburan, pemeriksaan air mani rutin sangat penting karena merupakan tes paling dasar untuk mencerminkan kesuburan pria, seperti halnya tes darah rutin untuk pemeriksaan kesehatan Anda. Pemeriksaan semen rutin mengandung banyak parameter, termasuk waktu pencairan, nilai pH, konsentrasi sperma, motilitas sperma, dan tingkat malformasi sperma. Hari ini, mari kita mengenal tingkat malformasi sperma. Tingkat malformasi sperma saat ini didasarkan pada standar yang ketat setelah pewarnaan dan dianggap berada dalam kisaran normal yaitu >4% bentuk sperma normal. Bagaimana dan apa yang harus dilakukan terhadap angka-angka tingkat malformasi? Pertama, nilai absolut dari angka malformasi tidak boleh terlalu tinggi; angka malformasi yang terlalu tinggi secara alamiah akan menghasilkan angka konsepsi yang jauh lebih rendah. Kedua, tes yang saat ini digunakan adalah tes setelah pewarnaan, sehingga nilai normalnya lebih menuntut dan relatif akurat. Indeks kelainan bentuk sperma (SDI) dan indeks sperma teratogenik (TZI) dinilai, dan jika kedua indikator ini lebih besar dari 1,6, maka ini berarti fertilisasi in vitro memiliki tingkat keberhasilan yang sangat rendah. Selain itu, terdapat korelasi antara tingkat malformasi sperma dan viabilitas sperma, terutama semakin tinggi tingkat malformasi ekor, semakin besar dampaknya terhadap viabilitas sperma. Selain itu, diperlukan evaluasi yang komprehensif sehubungan dengan kepadatan sperma. Beberapa sampel air mani dengan malformasi yang parah memiliki kepadatan sperma yang baik, tentunya, dan di sinilah pertanyaannya perlu difokuskan pada tingkat malformasi sejak awal. Terakhir, sekali lagi penting untuk diingat bahwa pemeriksaan air mani rutin tidak dapat dilakukan hanya dengan satu kali pemeriksaan, tetapi memerlukan penilaian yang komprehensif melalui beberapa kali pemeriksaan berulang. Pada kasus sperma yang cacat yang parah, gen kromosom dan spermatogenik juga harus diperiksa untuk menyingkirkan kelainan genetik. Tentu saja, tidak ada korelasi langsung antara sperma yang cacat dengan kejadian aborsi spontan dan cacat lahir.