Apakah otak dan sumsum tulang belakang yang rusak dapat diperbaiki?

Disfungsi neurologis setelah kerusakan patologis akibat cedera neurologis, stroke, penyakit Alzheimer, cerebral palsy, penyakit neurodegeneratif, dan penyakit neurogenetik merupakan faktor penting yang memengaruhi perpanjangan usia manusia. Studi klinis tindak lanjut jangka panjang telah mengkonfirmasi bahwa penggunaan pendekatan neuroprostetik berbasis sel dapat menjadi strategi pengobatan yang aman dan layak untuk memulihkan sebagian fungsi neurologis pada pasien dengan cedera tulang belakang tingkat lanjut yang lengkap, meningkatkan kualitas kelangsungan hidup dan, sampai batas tertentu, mewujudkan impian pasien untuk bangkit dan berjalan kembali. Terapi yang telah tersedia bukti medisnya meliputi obat-obatan (metilprednisolon), pembedahan (dekompresi sumsum tulang belakang dini, mielotomi, cangkok saraf dengan jahitan lateral), berbagai jenis transplantasi sel (sel selaput penciuman, sel stroma sumsum tulang belakang autologus, aktivasi autologus sel cevonex), stimulasi neuroelektromagnetik (perkutan, transdural, dan transkranial), latihan rehabilitasi intensif, dan lain sebagainya. Terapi transplantasi sel kerusakan otak Di antara pengobatan di atas, terapi transplantasi sel kerusakan otak merupakan pusat penelitian para ahli dari berbagai negara. Para ahli dari berbagai negara telah mengkonfirmasi bahwa metode neuroprostetik berbasis sel yang komprehensif dapat membantu pasien dengan gejala sisa pasca stroke, penyakit neuron motorik, atrofi sistem multipel, gejala sisa cerebral palsy, dan penyakit Alzheimer untuk meningkatkan fungsi neurologis dan kualitas kelangsungan hidup. Konferensi ini melaporkan jenis sel saat ini yang dapat diterapkan meliputi: sel punca dan progenitor saraf yang berasal dari sumsum tulang belakang manusia, sel stroma mesenkim yang dimodifikasi secara genetik, sel mononuklear darah tali pusat, sel stroma sumsum tulang belakang autologus, sel mesenkim tali pusat, dan sel punca adiposa. Perangkat Rehabilitasi Berbantuan Robot Laporan terkait rehabilitasi berbantuan robot juga menarik perhatian dalam konferensi tersebut. Penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan teknik rehabilitasi, desain bionik, dan kecerdasan tinggi, melalui anggota tubuh yang digerakkan oleh robot untuk melakukan latihan rehabilitasi berulang-ulang, diharapkan dapat membangun kembali sistem saraf yang mengendalikan gerakan anggota tubuh, dan mencapai tindakan pasien seperti berdiri, duduk, berjalan, naik turun tangga, dan berolahraga dalam kehidupan sehari-hari, sehingga memperoleh kemampuan hidup mandiri yang lebih kuat. Para ahli yang berpartisipasi melaporkan perubahan kelenturan dari pelatihan gaya berjalan dengan bantuan robot pada pasien cedera tulang belakang kronis yang tidak lengkap, dan status perbaikan sendi pinggul dan lutut setelah menggunakan pelatihan gaya berjalan dengan bantuan robot pada pasien cedera tulang belakang yang tidak lengkap. Nanoteknologi dan Neurostimulasi Stimulasi neuromodulasi dan nanoteknologi merupakan dua arah yang perlu dieksplorasi secara aktif di masa depan. Beberapa penelitian telah mengkonfirmasi bahwa stimulasi otak dalam memiliki potensi untuk meningkatkan regenerasi saraf, melindungi saraf dari stimulasi otak dalam pada stroke dan penyakit Huntington, serta meningkatkan kejang dan prognosis. Sementara itu, nanoteknologi untuk neuroprostetik telah menunjukkan berbagai macam aplikasi, dengan lingkungan mikro yang berdampak pada pertumbuhan, migrasi, dan diferensiasi sel yang ditransplantasikan, serta mampu memandu regenerasi dan perpanjangan akson secara positif.