Diskektomi lumbal adalah metode pembedahan yang paling umum untuk pengobatan herniasi diskus lumbal, tetapi kemanjurannya dibandingkan dengan metode non-bedah masih kontroversial. Spine Patient Regression Research Clinical Trial (SPORT), sebuah penelitian multisenter besar yang dilakukan di Amerika Serikat, mempublikasikan hasil penelitian kohort observasionalnya dibandingkan dengan penelitian terkontrol secara acak. Eugene Morbidity, Pusat Medis Universitas Stanford, AS, berkomentar bahwa hasil studi SPORT memberikan referensi yang penting dan tepat waktu bagi pasien dengan herniasi lumbal dalam memilih pengobatan. Namun, masih banyak pertanyaan tentang pengobatan herniasi lumbal. Misalnya, analisis efektivitas biaya perawatan bedah herniasi lumbal harus dilakukan. Sebuah penelitian di Swedia menunjukkan bahwa perawatan bedah memiliki efektivitas biaya yang baik, tetapi hasilnya perlu dikonfirmasi lebih lanjut; efek dekompresi bedah dini pada pasien dengan gejala kelumpuhan yang parah tidak jelas; bedah dekompresi sering dilakukan dalam praktik klinis ketika pasien mengalami gangguan gerakan dan gangguan fungsional lainnya, tetapi hanya ada sedikit bukti yang mendukung pendekatan ini. Demikian pula, sindrom cauda equina dengan hilangnya fungsi usus dan kandung kemih akibat herniasi diskus jarang terjadi dan biasanya diobati dengan pembedahan, tetapi tidak ada bukti yang kuat mengenai keampuhannya atau waktu pembedahan yang optimal. Dengan berkembangnya teknik pembedahan, beberapa prosedur invasif minimal lokal telah digunakan untuk dekompresi akar saraf, tetapi tidak jelas apakah metode ini memiliki hasil yang lebih baik atau dapat meningkatkan komplikasi pasca operasi. Selain itu, penelitian yang menggunakan obat untuk mengontrol perkembangan peradangan lokal pada akar saraf sedang berlangsung.