I. Hubungan antara penyembuhan luka dan perawatan nutrisi: Penyembuhan luka atau sayatan berkaitan erat dengan status nutrisi tubuh. Jika ada malnutrisi sebelum trauma dan tidak ada perhatian terhadap dukungan nutrisi setelah trauma, maka akan sulit bagi luka untuk sembuh. Malnutrisi pada gilirannya menyebabkan berkurangnya fungsi kekebalan tubuh dan kerentanan terhadap infeksi sekunder. Penyembuhan luka adalah proses yang membutuhkan protein (asam amino). Asam lemak tak jenuh, karbohidrat, vitamin, dan elemen-elemen seperti zat besi, tembaga, seng, dan nutrisi lainnya diperlukan untuk menyelesaikan proses yang kompleks. Nutrisi dalam proses penyembuhan luka: 1, protein tinggi, diet tinggi gula: karena berbagai alasan seperti perdarahan, eksudasi, pembentukan nanah dan nekrosis jaringan pada permukaan luka, mengakibatkan hilangnya protein dalam jumlah besar. 2. Kulit babi yang kaya kolagen atau jeroan babi. 3 . Sesuai dengan kebutuhan penyembuhan luka, makanan harus menyediakan: makanan yang kaya akan tembaga: daging tanpa lemak, hati, produk akuatik, udang, kacang-kacangan, kubis, gandum, biji-bijian kasar, almond, kenari, dll. Makanan kaya seng: kulit udang, kubis ungu, hati babi, biji wijen, kedelai, kerang, dll. Makanan kaya zat besi: hati hewan, jantung, ginjal, darah utuh, kuning telur, daging tanpa lemak, ikan lebih disukai, sayuran berdaun hijau, buah-buahan, buah-buahan, rumput laut, jamur, gula merah, dll. Makanan yang kaya akan kalsium: ikan pinus, kulit udang, udang, kacang kering, produk kedelai, dll. Makanan yang kaya vitamin A: makanan nabati, makanan hewani. Makanan yang kaya akan vitamin C: buah segar.