Penyakit Parkinson (PD) adalah penyakit neurodegeneratif yang menimpa banyak orang lanjut usia. Pasien dengan penyakit Parkinson mengalami gangguan fungsional yang parah di kemudian hari dan tidak ada obat untuk penyakit ini, hanya penggunaan obat untuk menjaga gejala tetap terkendali dan meringankan gejala motorik. Selain pengobatan, rehabilitasi adalah bentuk perawatan yang tidak penting. Rehabilitasi untuk penyakit Parkinson meliputi terapi olahraga, terapi okupasi, terapi bicara dan menelan, serta fisioterapi.
I. Terapi okupasi
Tujuan utama terapi okupasi adalah untuk mempertahankan dan meningkatkan fungsi anggota tubuh bagian atas, meningkatkan kemampuan merawat diri sendiri dalam kehidupan sehari-hari, dan mengajarkan anggota keluarga tentang cara merawat pasien. Untuk gejala kejiwaan atau gangguan kognitif, pelatihan kelompok atau metode pengembangan minat untuk berkomunikasi dengan pasien lain sangat terapeutik. Aktivitas seperti menguleni playdough, merajut, mengikat sabuk tali, menggabungkan dan memisahkan kembali baut dan mur, menggunakan mesin ketik dan keyboard komputer dapat meningkatkan rentang gerak sendi dan meningkatkan fungsi tangan. Penting juga untuk melatih pasien dalam berpakaian, memakai sepatu dan kaus kaki, berdiri, berjalan, makan, mencuci, berkumur, menulis, menyisir rambut, serta buang air kecil dan besar, serta beberapa tugas rumah tangga yang sesuai dan melatih keterampilan hidup sehari-hari.
Fisioterapi
1. Pelatihan relaksasi
Bantu pasien untuk menggerakkan tungkai dan otot-otot batang tubuh secara berirama; latihan rentang gerak sendi: instruksikan pasien untuk menggerakkan sendi-sendi di seluruh tubuh, 3-5 kali untuk setiap sendi, dan perhatikan gerakan yang lambat dan lembut untuk menghindari peregangan dan rasa sakit yang berlebihan.
2. Pelatihan untuk meningkatkan kekuatan otot
Fokus pada otot dada, otot perut, serta otot pinggang dan punggung. Pelatihan batang tubuh: fleksi ke depan batang tubuh, ekstensi ke belakang, fleksi lateral dan pelatihan rotasi; pelatihan otot perut: pelatihan dada lutut fleksi terlentang, pelatihan mengangkat kaki lurus terlentang, pelatihan sit-up; pelatihan otot punggung bawah: pelatihan terbang walet, pelatihan penyangga lima titik, pelatihan penyangga tiga titik; pelatihan gluteus: posisi tengkurap di bawah ekstensi lutut secara bergantian mengangkat tungkai bawah ke atas.
3. Pelatihan keseimbangan
Fungsi keseimbangan adalah dasar untuk mempertahankan posisi tubuh yang normal, menyelesaikan berbagai gerakan transfer dan berjalan. Pasien duduk di tempat tidur dengan kaki rata di lantai, letakkan beberapa benda di sampingnya, lalu ambil benda-benda tersebut dari satu sisi ke sisi lain dengan tangan kiri atau tangan kanan, untuk dipraktikkan berulang kali.
4 . Pelatihan berjalan
Berjalan adalah proses di mana tubuh secara konstan menggerakkan bagian tengahnya, dengan kontrol postur dan keseimbangan yang baik sebagai prasyarat. Latihan berjalan terutama memperbaiki pola gaya berjalan yang tidak normal seperti sulit memulai, mengangkat kaki yang rendah, panjang langkah yang pendek, lambat berbelok, dan gerakan tungkai atas dan bawah yang tidak terkoordinasi.
Latihan berjalan mengharuskan pasien untuk melakukan latihan melangkah maju dan mundur. Saat berjalan, tanda dapat ditambahkan ke lantai atau rintangan 5-7 cm dapat ditempatkan, dan latihan melangkah dan mengayunkan lengan juga dapat dilakukan.
Latihan berjalan dengan penurunan berat badan terutama melibatkan penggantungan bagian tubuh pasien dalam gendongan penurunan berat badan untuk mengurangi beban pada tungkai bawah pasien saat berjalan dan untuk meningkatkan kemampuan berjalan.
5. Terapi olahraga
Prinsip terapi olahraga adalah menghambat pola gerakan abnormal dan mempelajari pola gerakan normal. Dalam terapi olahraga, program pelatihan individual harus direfleksikan dan motivasi pasien harus dimobilisasi sepenuhnya selama proses pelatihan, dengan penekanan pada partisipasi aktif pasien, untuk meningkatkan kemanjuran pengobatan.
Terapi fisik
1. Stimulasi magnetik transkranial berulang dengan frekuensi rendah
Pada pasien Parkinson, inti degeneratif terletak di sistem substantia nigra-striatal, sementara fungsi kortikal berada dalam keadaan yang relatif tereksitasi. Stimulator magnetik dapat menghasilkan denyut nadi yang kuat dengan durasi yang sangat singkat ketika stimulus dilepaskan dengan cepat melalui kapasitor ke koil, melewati kulit dan tengkorak pasien Parkinson, menghambat korteks serebral, meningkatkan ambang batas istirahat otak dan mengurangi rangsangan, sehingga mencapai tujuan pengobatan.
2. Stimulasi arus searah transkranial
Stimulasi arus searah transkranial (tDCS) adalah teknik non-invasif yang menggunakan arus lemah (1-2mA) untuk mengatur aktivitas saraf di korteks serebral. Sebagai teknik baru, teknik ini belum sempurna, tetapi efektivitasnya dalam mengobati gejala non-motorik penyakit Parkinson sudah jelas.
Prinsip stimulasi arus searah transkranial untuk penyakit Parkinson sekarang diyakini bahwa stimulasi arus searah transkranial menginduksi perubahan potensi neuron, yang secara mekanis memperbaiki reseptor neuron dan memodifikasi sensitivitas neuron, sehingga mengaktifkan rangsangan korteks serebral. Metode stimulasi arus searah transkranial telah terbukti memberikan efek yang besar pada pasien Parkinson dalam hal peningkatan kualitas tidur dan status kognitif.
3. Pelatihan isyarat eksternal
Tiga modalitas isyarat eksternal utama adalah pendengaran, visual, dan somatosensorik, dan ketiganya juga dapat digabungkan sebagai modalitas stimulasi. Pada penyakit Parkinson, sistem isyarat terganggu, yang mengakibatkan gangguan gaya berjalan, yang dibuktikan dengan inisiasi motorik yang lambat, kecepatan berjalan yang melambat, panjang langkah yang pendek, dan bahkan gaya berjalan yang membeku. Isyarat eksternal dapat mengkompensasi gangguan motorik ini dengan memberikan stimulus temporal dan spasial yang terkait dengan inisiasi motorik dan fasilitasi motorik, yang mengarah pada peningkatan gaya berjalan, seperti musik berirama, metronom, dll.
IV. Terapi bicara dan latihan menelan
Penderita Parkinson mengalami disartria, gangguan dalam fonologi bicara, penyimpanan informasi verbal spontan, dan pemahaman terhadap perintah tertulis atau verbal. Terapi bicara untuk pasien Parkinson membutuhkan lebih banyak bicara dan latihan, dengan memperhatikan pengucapan setiap kata seakurat mungkin, mulai dari bunyi vokal dan rima, hingga pengucapan setiap kata dan frasa. Anda dapat berlatih di depan cermin, mengamati bentuk mulut, posisi lidah, dan ekspresi otot wajah Anda, melatih gerakan bibir dan lidah, serta mengupayakan pengucapan yang jelas dan akurat.
Menelan adalah gejala umum dari gejala non-motorik pasien Parkinson yang berhubungan dengan disfungsi sistem pencernaan, yang dimanifestasikan sebagai kesulitan makan dan lebih terasa ketika makan makanan keras. Latihan menelan menargetkan organ-organ yang terlibat dalam menelan, termasuk latihan refleks faring, atresia, supraglotis, dan menelan kosong, serta latihan motorik pada otot-otot mulut, wajah, dan lidah. Ketika menelan terganggu, maka
Anda juga dapat mengurangi hambatan untuk makan dengan menyesuaikan postur makan Anda, memilih makanan yang lembut dan kenyal, dan menggunakan alat makan yang sesuai.
Singkatnya: Parkinson adalah penyakit degeneratif pada sistem saraf pusat. Peran rehabilitasi untuk pasien Parkinson adalah untuk mendorong regenerasi akson, perkecambahan dendrit, dan perjalanan koneksi baru yang menonjol di sel anggota saraf, sehingga membentuk jaringan saraf baru yang mendekati fungsi normal.