Haruskah penyakit radang usus menjadi antiinflamasi?

Penyakit radang usus (IBD) terutama mencakup penyakit Crohn (CD) dan kolitis ulserativa (UC). Meskipun antibiotik umumnya digunakan secara klinis untuk mengobati IBD, sampai saat ini belum ada bukti yang meyakinkan bahwa antibiotik efektif untuk CD dan UC. Penggunaan antibiotik secara klinis dalam pengobatan IBD didasarkan pada penelitian yang menunjukkan bahwa bakteri dalam lumen usus berperan penting dalam patogenesis IBD. Dihipotesiskan bahwa antibiotik dapat mempengaruhi regresi IBD dengan cara: 1) mengurangi konsentrasi bakteri dan jamur dalam usus pasien IBD; 2) mengubah komposisi flora usus dan meningkatkan pertumbuhan bakteri probiotik; 3) mengurangi invasi jaringan oleh bakteri dalam usus dan mengobati beberapa mikroabses. Antibiotik saat ini tidak digunakan secara universal dalam pengobatan UC. Ada beberapa studi percontohan terkontrol yang menggunakan antibiotik dalam pengobatan pasien UC, tetapi hasilnya tidak konsisten. Secara umum diterima bahwa antibiotik memiliki sedikit atau tidak ada nilai terapeutik pada UC aktif. Namun, antibiotik dapat bermanfaat pada kolitis fulminan yang diperumit oleh abses atau dalam perkembangan megakolon toksik. Antibiotik spektrum luas harus digunakan, terutama jika pasien-pasien ini juga menerima kortikosteroid. Hubungan antara indikator antimikroba dan kemanjuran obat antibakteri tidak jelas, dan tidak pasti apakah studi kemanjuran antibiotik tertentu dapat diterapkan pada antibiotik lain. Sebagian besar antibiotik hanya mengubah konsentrasi bakteri dalam usus untuk sementara dan bakteri akan terakumulasi kembali pada mukosa setelah pengobatan selesai. Oleh karena itu, obat-obatan seperti metronidazol dan ciprofloxacin biasanya digunakan sebagai pengobatan pelengkap yang efektif. Penelitian telah dilaporkan menunjukkan bahwa antibiotik efektif dalam mengobati pasien dengan CD dan menurut beberapa ahli, penggunaan antibiotik untuk CD dapat menjadi pengobatan yang lebih masuk akal sebagai pengobatan lini pertama atau dikombinasikan dengan agen imunosupresif. Hipotesis ini didukung lebih lanjut oleh hasil penelitian terbaru, yang menunjukkan bahwa penggunaan jangka panjang nitroimidazol atau klofazimine efektif pada pasien dengan CD. Namun, masih ada banyak pertanyaan yang perlu dijawab, dan jika ini diselesaikan di masa depan, strategi pengobatan yang lebih baik dapat dikembangkan untuk penyebab penyakit ini. Oleh karena itu, penting untuk datang ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut sebelum memutuskan pengobatan untuk penyakit radang usus. Jangan sembarangan menggunakan antibiotik karena hal ini dapat menunda penyakit dan mengganggu lingkungan mikro usus yang normal.