Tahap sekolah menengah adalah tahap transisi menuju kedewasaan. Karakter seseorang pada dasarnya terbentuk pada tahap ini, dan berbagai masalah muncul karena mereka menghadapi begitu banyak perubahan. Perkembangan fisiologis Pematangan organ-organ tubuh mereka, terutama perkembangan fisiologi seksual mereka yang cepat, membuat mereka mengembangkan kesadaran seksual yang mulai tumbuh. Ketika mereka mulai memperhatikan lawan jenis dan memiliki hasrat seksual, mereka pasti akan menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab, dan karena mereka terlalu malu untuk membicarakannya, mereka rentan terhadap miskonsepsi atau kesalahpahaman dan perilaku yang keliru tentang seks. Masalah yang umum terjadi adalah kegugupan yang berlebihan mengenai interaksi heteroseksual, kecemasan seksual, identitas seksual yang buruk, rasa bersalah yang negatif setelah masturbasi, dan cinta sejak dini. Siswa sekolah menengah secara bertahap mengembangkan rasa “dewasa”. Akibatnya, mereka mungkin melebih-lebihkan diri mereka sendiri, menjadi egois, kurang mandiri karena mentalitas kawanan yang berlebihan, penolakan diri yang berlebihan, harga diri yang berlebihan, rasa rendah diri dan kesombongan, dan konflik antara diri yang ideal dan realistis. Psikologi. Siswa sekolah menengah secara bertahap beralih dari ketergantungan pada orang tua menuju kemandirian, lebih memilih untuk membuat keputusan berdasarkan penilaian mereka sendiri. Pada tahap ini, orang tua dan anak kemungkinan besar akan mengalami konflik dan tidak bahagia. Belajar Setiap siswa ingin berhasil dalam studi mereka, tetapi beberapa siswa belajar dengan cara yang tidak tepat, tidak memiliki minat belajar dan mengembangkan masalah seperti fobia sekolah, depresi atau anoreksia, cemburu, rendah diri dan menurunnya rasa percaya diri.