Setelah terinfeksi oleh Clostridium tetani, tetanus dapat didiagnosis jika pasien memiliki manifestasi yang khas seperti gigi terkatup, wajah tersenyum pahit dan kontraktur otot yang menyakitkan. Setelah Clostridium tetani memasuki tubuh manusia melalui celah pada kulit dan selaput lendir, bakteri ini berkembang biak dalam jumlah besar dalam kondisi yang sesuai (anaerob) dan dapat menghasilkan hemolisin dan toksin spasmodik. Toksin ini berdifusi ke sistem saraf pusat melalui sel saraf lokal, yang menyebabkan peningkatan rangsangan otot pada otot-otot rangka di seluruh tubuh, yang didiagnosis sebagai tetanus. Umumnya, timbulnya penyakit ini terjadi 3 ~ 24 hari setelah cedera, dan pasien mungkin mengalami kontraksi otot menggigit dan otot leher bagian belakang karena aksi toksin tetanus, dan mungkin memiliki gejala khas tetanus seperti senyum pahit, gigi mengatup, retraksi sudut, dan kejang-kejang. Pasien dapat meninggal karena sesak napas akibat kelumpuhan otot pernapasan secara bertahap. Penelitian saat ini meyakini bahwa semakin pendek masa inkubasi, semakin tinggi angka kematian. Oleh karena itu, imunoglobulin tetanus atau antitoksin tetanus harus disuntikkan secara rutin setelah cedera untuk mencegah tetanus. Jika pasien telah mengalami gejala awal seperti mengeluarkan air liur atau mengalami gejala khas tetanus, disarankan untuk segera mencari perawatan medis.