“Bu, anak Anda berkelahi dengan orang lain!” “Bu, teman sekelas si Fulan merebut mainan saya hari ini dan kami bertengkar.” Dalam kehidupan, tidak dapat dipungkiri bahwa anak Anda akan mengalami gesekan atau konflik dengan anak lain. Sebagai orang tua, apa yang harus Anda lakukan? Jika ditangani dengan baik, hal ini dapat membantu anak-anak untuk mengubah perbedaan mereka menjadi perdamaian, terus berteman, dan akan mencegah hal yang sama terjadi di masa depan; jika tidak ditangani dengan benar, hal ini akan berdampak negatif pada masa depan anak dan bahkan kehidupannya. Hari ini, mari kita bahas bagaimana cara mengatasi konflik antar anak. 3 Sikap Umum Orang Tua dalam Menghadapi Konflik Anak Apa yang Anda lakukan ketika anak Anda berkonflik dengan anak lain? Berikut ini adalah 3 sikap yang umum dilakukan, mari kita lihat sikap Anda yang mana. Yang pertama adalah membela anak Anda. Terkadang terlihat seperti perkelahian, pada kenyataannya, anak mengira itu hanya bermain, tetapi beberapa orang tua berkaca-kaca, berpikir bahwa anak mereka diganggu, dan secara langsung mengkualifikasikannya sebagai “intimidasi” atau “konflik”, dan naik ke tingkat “kualitas dan pola asuh”. “Orang tua yang dituduh yakin bahwa anak mereka sedang dirundung. Pada titik ini, orang tua yang dituduh pasti akan kesal, berpikir bahwa pihak lain membesar-besarkan masalah ini, dan demi melindungi emosi anak mereka sendiri, mereka juga tidak mau menunjukkan sikap pilih kasih dan pembelaan. Melindungi dan mengintervensi tidak hanya akan memperburuk konflik di antara anak-anak, tetapi juga akan memberikan contoh yang salah kepada anak-anak, yang mengarah pada kelemahan atau kesombongan, yang tidak kondusif untuk pengembangan kehidupan sosial yang sehat bagi anak-anak. Tipe kedua adalah menjaga muka orang lain dan menyalahkan anak Anda sendiri. Misalnya, jika seorang teman membawa anaknya ke rumah Anda, dan anak lain ingin bermain dengan mainan favorit anak Anda, tetapi anak Anda tidak mau membiarkan anak lain bermain dengannya, sehingga terjadi pertengkaran, yang akhirnya dilerai oleh orang tua. Pada titik ini, jika Anda berkata kepadanya, “Mengapa kamu begitu jahat, biarkan si anu memainkannya!” Hal ini akan membuat anak merasa bahwa orangtuanya tidak menghargai emosinya dan dia akan terlihat tidak berdaya dan marah. Yang ketiga adalah memotivasi anak untuk menyelesaikan konfliknya sendiri. Tidak ada yang salah dengan anak yang menyelesaikan masalahnya sendiri, namun orang tua perlu mempertimbangkan usia anak yang sebenarnya. Sebelum usia 3 tahun, anak belum memiliki kemampuan komunikasi sosial, ia belum mampu menyelesaikan masalahnya sendiri. Jadi, ketika konflik terjadi, orang tua adalah orang yang perlu melakukan intervensi tepat waktu untuk memastikan keselamatan anak, dan pada saat yang sama membantu anak mengenali emosinya dan menanamkan aturan sosial yang sederhana. Balita berusia antara 3 dan 6 tahun memiliki beberapa keterampilan komunikasi dan sosial. Inilah saatnya untuk fokus membimbing anak Anda mengekspresikan emosinya, memahami aturan sosial, dan mengajaknya berpikir lebih banyak tentang solusi dan tindakan positif. Setelah usia 6 tahun, Anda dapat mendorong dan membimbing anak Anda untuk menyelesaikan masalah sosial sendiri. Bagaimana cara menangani konflik sosial anak Anda? Lalu, apa yang harus dilakukan orang tua ketika terjadi konflik sosial pada anak mereka? Kami memiliki beberapa saran yang dapat Anda jadikan referensi. 1 . Pertama-tama, Anda harus menenangkan emosi anak Anda. Ketika konflik terjadi, anak-anak sering kali marah dan impulsif. Jantung mereka berdetak lebih cepat, wajah mereka panas, mereka tidak bisa berpikir jernih sama sekali, mereka ingin memukul seseorang, mereka ingin menjatuhkan sesuatu, atau mereka mengatakan sesuatu yang menyakitkan. Anda perlu memahami emosi anak Anda dan membiarkannya merasa bahwa Anda berada di kubu emosinya dan tidak berada di pihak yang berlawanan, sehingga Anda dapat menindaklanjuti komunikasi dengan lebih baik. 2 . Dorong anak Anda untuk menceritakan kejadian tersebut, biarkan dia menceritakan alasannya marah, dan kenali serta ekspresikan emosinya. 3 . Setelah memahami kejadian tersebut, Anda harus membantu anak Anda untuk menganalisis masalahnya. Temukan dan analisis emosi dari kedua belah pihak yang bertikai, lalu bimbing anak Anda untuk mencoba berpikir dari sudut pandang yang berbeda. “Jika kamu menjadi dia, apa yang akan kamu pikirkan dan apa yang akan kamu lakukan?” Kembangkan “empati” anak Anda. “Empati” bukan berarti anak harus memaafkan dan memahami perilaku pihak lain, tetapi harus memahami emosi pihak lain dalam konflik, membedakan mana yang benar dan mana yang salah, serta menemukan cara yang lebih baik untuk menyelesaikan masalah. Doronglah anak Anda untuk mengubah pemikiran menjadi tindakan. Jika itu adalah masalah anak Anda sendiri, mintalah dia untuk belajar bertanggung jawab dan meminta maaf. 5. Ketika anak Anda menangani konflik sosial sendiri, sekali lagi, biarkan dia tetap tenang terlebih dahulu dan jaga jarak dengan pihak lain. Anda dapat mendengarkan pihak lain untuk memahami apa yang sebenarnya diinginkan oleh pihak lain alih-alih memperkeruh konflik. Cobalah untuk menghentikan pertengkaran dengan menggunakan humor, misalnya, “Aku tidak ingin kamu masuk angin”, atau berikan alasan “Kita berdua akan dikritik jika kita terus berdebat.”