Ada dua kemungkinan terjadinya lompatan otot betis: pertama, tremor fisiologis pada kumpulan otot. Hal ini paling sering terlihat pada pasien yang terlalu banyak bekerja, atau yang telah minum zat rangsang dalam jumlah besar seperti kopi dan teh kental dalam waktu yang lama, yang meningkatkan rangsangan saraf dan membuat tremor lebih mudah terjadi. Kedua, tremor patologis terlihat pada penyakit saraf tepi, dan cedera saraf tepi dapat ditandai dengan tremor pada kumpulan otot, atrofi otot, konduksi saraf yang melambat, dan amplitudo gelombang yang berkurang. Ada juga berbagai penyakit yang dapat dikombinasikan dengan cedera saraf tepi, yang paling umum adalah polineuropati. Ini adalah penyakit inflamasi yang juga dapat dikaitkan dengan iskemia, dan sebagian besar pasien dengan diabetes atau uremia juga dapat mengembangkan neuropati perifer metabolik. Ada juga sklerosis lateral amyotrofik, yang merupakan jenis penyakit neuron motorik yang ditandai dengan kerusakan saraf tepi dan kerusakan neuron motorik atas. Elektromiografi dapat menunjukkan bukti kerusakan saraf tepi, serta tanda patologis positif dan tanda bundel kerucut.