Otomatisme adalah gerakan stereotip yang kurang lebih tidak disengaja, tidak bermakna dan tidak bertujuan yang terjadi selama atau setelah kejang ketika kesadaran pasien masih kabur dan tidak dapat diingat kembali setelah bangun. Manifestasi klinis dapat terjadi dalam berbagai bentuk, termasuk pengulangan gerakan yang dilakukan sebelumnya, gerakan baru yang tidak disadari, atau gerakan sebagai respons terhadap halusinasi atau ilusi. Pemeriksaan yang relevan dengan otomatisme adalah sebagai berikut: 1. Pemeriksaan darah, urin, dan feses Sesuai dengan kondisinya, biokimia darah (gula, kalsium, fosfor, dan elektrolit, dll.), cairan serebrospinal, fungsi hati dan ginjal, kromosom, dan berbagai tes penyakit metabolik genetik dapat dilakukan. 2 . Elektroensefalografi EEG dapat membantu dalam diagnosis epilepsi dan membantu dalam lokalisasi dan klasifikasi epilepsi. Ini membantu menyingkirkan penyakit non-epilepsi. Oleh karena itu, semua anak yang mengalami kejang-kejang harus menjalani pemeriksaan EEG secara rutin. Jika perlu, tes bangkitan dan elektroensefalogram dinamis 24 jam harus dilakukan. 3 . Pemeriksaan pencitraan (1) CT dan Magnetic Resonance Imaging (MRI): untuk memeriksa kelainan struktur otak, seperti malformasi otak, kalsifikasi intrakranial, tumor, dan kelainan perkembangan. (2) Positron Emission Tomography (PET) dan Single Photon Emission Tomography (SPECT): untuk mendeteksi fungsi metabolisme otak dan aliran darah otak, untuk memahami perubahan fungsi otak dan untuk membantu menentukan lokasi epilepsi. Positron Emission Tomography (PET) lebih akurat dalam merespons lesi dan mempersiapkan pembedahan.