Kehamilan itu sendiri tidak menyebabkan bau rubah, tetapi dapat diperburuk selama kehamilan, terutama karena kelenjar endokrin wanita mudah terpengaruh selama kehamilan. Ketika kelenjar keringat pada permukaan ketiak menghasilkan keringat yang mengandung lipid atau protein, mereka dipecah oleh bakteri pada permukaan ketiak untuk menghasilkan asam lemak tak jenuh, sehingga menghasilkan bau yang tidak sedap. Selama kehamilan, wanita memiliki metabolisme yang tinggi dan cenderung banyak berkeringat, yang menyebabkan pertumbuhan bakteri. Selain itu, selama kehamilan, wanita menjadi sensitif, mudah tersinggung, dan mengalami perubahan suasana hati yang dapat memengaruhi sistem endokrin, yang pada gilirannya dapat memperburuk bau rubah. Penting untuk dipahami bahwa bau rubah tidak mempengaruhi kesehatan ibu atau janin, dan dapat dipulihkan setelah melahirkan, jadi tidak perlu terlalu khawatir. Wanita hamil dapat mandi atau menyeka lipatan kulit mereka secara teratur untuk memastikan bahwa tubuh mereka bersih dan kering, dan mereka perlu mengembangkan kebiasaan makan yang baik dan rutinitas teratur untuk menghindari gangguan endokrin, yang dapat meningkatkan sekresi keringat dan memperburuk bau rubah selama kehamilan.