Cara Memeriksa Tes untuk Penyakit Alzheimer

Pasien dengan penyakit Alzheimer perlu diperiksa dengan tes laboratorium, pemeriksaan fisik dan neurologis, elektroensefalogram, tes pencitraan, dan tes neuropsikologis.
1. Pemeriksaan laboratorium: Pasien penyakit Alzheimer perlu melakukan pemeriksaan biokimia darah, pemeriksaan darah rutin urin, pemeriksaan cairan serebrospinal untuk diagnosis dan analisis yang komprehensif. Di antaranya, pemeriksaan cairan serebrospinal dapat menunjukkan penurunan kadar amiloid-42 (Aβ42) dan peningkatan protein tau total dan protein tau terfosforilasi.
2. Pemeriksaan fisik dan neurologis: pasien perlu melakukan pemeriksaan kekuatan otot, tonus otot, keseimbangan, koordinasi, penglihatan dan pendengaran.
3. Elektroensefalografi (EEG): Pasien penyakit Alzheimer mungkin mengalami perubahan EEG (misalnya, pasien awal mungkin mengalami penurunan gelombang alfa EEG yang signifikan, dan pasien yang lebih tua mungkin mengalami onset yang lambat pada aktivitas theta yang lebih luas), dan EEG dapat membantu diagnosis penyakit.
4. Pemeriksaan pencitraan: Pemeriksaan CT dapat menunjukkan atrofi otak dan ventrikel yang membesar, sedangkan pemeriksaan resonansi magnetik kranial dapat menunjukkan atrofi lobus temporal bilateral dan hipokampus.
5. Pemeriksaan neuropsikologis: Pemeriksaan neuropsikologis memerlukan penggunaan beberapa alat untuk menilai fungsi verbal pasien, kemampuan memori, kemampuan orientasi, perhatian, dll. Alat yang umum digunakan termasuk Skala Kondisi Mental Sederhana, Skala Skrining Kemampuan Kognitif, Skala Penilaian Demensia Klinis, Kuesioner Neuropsikiatri, dll.
Setelah didiagnosis menderita penyakit Alzheimer, pasien perlu secara aktif bekerja sama dengan dokter untuk memperpanjang masa bertahan hidup dan meningkatkan kualitas hidup.