Atrofi saraf optik adalah kondisi patologis di mana serabut saraf optik mengalami atrofi secara ekstensif pada tahap akhir dari berbagai penyakit saraf optik. Manifestasi utama adalah kehilangan penglihatan yang tidak dapat dipulihkan atau bahkan kehilangan penglihatan. Tidak ada pengobatan yang efektif untuk kondisi ini, karena dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti lesi pada saraf optik itu sendiri, perambahan lesi perifer atau lesi intrakranial. Oleh karena itu, pencegahan atrofi optik sangatlah penting. Pada tahap awal penyakit, lesi primer diobati secara agresif. Neuropati optik iskemik diobati dengan vasodilator; neuritis optik dengan kortikosteroid, antibiotik dan antivirus; dan lesi demielinasi dengan kortikosteroid. Tes yang sangat membantu dalam mendiagnosis, mendeteksi kondisi dan menentukan kemanjuran pengobatan, antara lain: pemeriksaan ketajaman penglihatan, pemeriksaan lapang pandang, visual evoked potentials, CT kepala atau mata, MRI, dll. Setelah penyebab penyakit teridentifikasi, pengobatan yang ditargetkan secara aktif diupayakan. Ketika lesi telah berkembang ke tahap atrofi saraf optik, lesi tidak dapat dipulihkan dan pada dasarnya sulit untuk mengembalikan fungsi visual, jadi penting untuk mempertahankan fungsi saraf optik yang ada, dengan kombinasi nutrisi saraf (vitamin B1, B12, faktor neurotropik, dll.) dan perawatan peningkatan sirkulasi. Singkatnya, pengobatan atrofi saraf optik harus didasarkan pada situasi spesifik pasien, untuk mencapai hasil yang lebih baik.