Penyebab umum penyakit saraf optik meliputi peradangan, penyakit pembuluh darah, tumor dan trauma, termasuk neuritis optik, neuropati optik iskemik, neuropati optik traumatik, neuropati optik kompresi, dan tumor saraf optik. Gangguan saraf optik sering kali menyebabkan degenerasi sel ganglion optik dan aksonnya, dan setelah mengalami degenerasi, sel tersebut tidak dapat diregenerasi. Oleh karena itu, risikonya cukup signifikan. Saat ini, tujuan utama pengobatan penyakit saraf optik adalah untuk mengontrol perkembangan penyakit, oleh karena itu, diagnosis dini dan pengobatan dini sangat penting untuk prognosis penyakit saraf optik. Diagnosis dini penyakit saraf optik bergantung pada pemeriksaan spesialis dasar serta peralatan canggih, termasuk: ketajaman penglihatan, pemeriksaan pupil, lapang pandang, elektrofisiologi visual, tomografi koherensi optik, angiografi fluoresensi fundus, dan pemeriksaan seluruh tubuh. Penanganan gangguan saraf optik memerlukan penanganan yang cepat, akurat dan teratur. Strategi penanganan bervariasi antar gangguan, sehingga diperlukan diagnosis yang jelas. Ciri-ciri penyakit saraf optik yang umum terjadi: 1. Neuritis optik, yang lebih sering terjadi pada orang muda dan setengah baya, dengan kehilangan penglihatan yang cepat, papilla optik dapat mengalami edema atau normal, dan dapat disertai dengan nyeri mata spontan dan nyeri rotasi mata; 2. Neuropati optik iskemik, yang lebih sering terjadi pada orang lanjut usia, dengan kehilangan penglihatan yang cepat, edema pada papilla optik dengan perdarahan, dan cacat lapang pandang kuadran, sebagian besar disertai dengan kondisi yang mendasari seperti hipertensi dan diabetes melitus, dan diagnosisnya dapat dipastikan dengan angiografi fluoresensi fundus; 3. Trauma Neuropati optik, yaitu memar pada saraf optik, dengan riwayat trauma, kehilangan ketajaman penglihatan yang dramatis dan pemeriksaan fundus yang normal. Pengobatan neuritis optik didasarkan pada terapi kejut hormonal dosis tinggi, dilengkapi dengan obat neurotropik. Selain itu, perhatian perlu diberikan pada kondisi seperti sklerosis multipel dan neuromielitis optik. Fase akut neuropati optik iskemik diobati dengan terapi kejut hormon dosis tinggi yang dikombinasikan dengan antikoagulan dan vasodilatasi, dilengkapi dengan obat neurotropik. Fase pemulihan diobati dengan obat neurotropik. Pada saat yang sama, pengobatan penyakit yang mendasarinya juga diperlukan. Pada neuropati optik traumatis, terapi kejut hormon dosis tinggi lebih disukai, dilengkapi dengan obat neurotropik. Jika terapi kejut hormonal tidak efektif atau jika terdapat fraktur saluran optik gabungan, operasi dekompresi saluran optik dapat dipertimbangkan. Dengan demikian, terdapat banyak kesamaan dan perbedaan yang signifikan dalam strategi klinis untuk neuropati optik. Diagnosis dini dan definitif sangat penting dan strategi pengobatan harus didasarkan pada bukti medis berbasis bukti untuk mengembangkan rencana pengobatan terbaik secara ilmiah.