Terdapat perbedaan antara faringitis refluks dan faringitis kronis, terutama dari penyebab, gejala, dan pengobatannya.
1. Terdapat perbedaan etiologi: faringitis refluks berkaitan erat dengan penyakit saluran cerna (misalnya gastroesofagitis refluks, hernia hiatus, infeksi Helicobacter pylori), penggunaan obat jangka panjang (misalnya obat antiinflamasi nonsteroid), kebiasaan gaya hidup (merokok, kecanduan alkohol, minum teh pekat), dan sebagainya. Faringitis kronis sebagian besar terkait dengan episode berulang dari faringitis akut, merokok dan alkohol yang berlebihan, gangguan pencernaan, anemia, dan faktor lainnya.
2. Gejalanya berbeda: pasien faringitis refluks sering bermanifestasi sebagai suara serak, obstruksi faring, sensasi benda asing, sensasi terbakar, sering berdehem atau batuk kering. Pasien faringitis kronis sering bermanifestasi sebagai sensasi benda asing pada faring, sensasi terbakar, kekeringan, sakit tenggorokan, batuk yang menjengkelkan.
3. Ada perbedaan dalam pengobatan: pasien dengan faringitis refluks biasanya membutuhkan antasida (seperti omeprazole), untuk meningkatkan motilitas lambung (seperti mosapride), obat pelindung mukosa lambung (seperti aluminium thioglycollate) untuk pengobatan. Faringitis kronis biasanya diobati dengan obat topikal, seperti larutan boraks majemuk, larutan furacilin, tablet yang mengandung yodium, tablet yang mengandung peppermint, tablet yang mengandung kuning perak, tablet yang mengandung krim semangka, dan sebagainya.
Dari poin-poin di atas, kita dapat melihat bahwa ada perbedaan antara faringitis refluks dan faringitis kronis. Jika ada ketidaknyamanan, disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter tepat waktu, dan obat-obatan di atas harus dikonsumsi di bawah bimbingan dokter atau apoteker.