Bermimpi adalah fenomena yang melekat dan tidak mungkin bagi orang normal untuk tidak bermimpi. Orang pada umumnya membagi tidur menjadi tahap NREM 1, 2, 3, 4 dan REM. Telah ditemukan bahwa bermimpi sebagian besar terjadi pada tahap REM, tetapi juga dapat terjadi pada tahap tidur lainnya. Penelitian menegaskan bahwa tidur REM memainkan peran penting dalam retensi memori dan pemrosesan ulang, dan bahwa tidur REM berkontribusi pada perkembangan fungsi otak. Oleh karena itu, tidaklah benar untuk menggeneralisasi bahwa bermimpi itu berbahaya bagi kesehatan. Ada benarnya pepatah lama yang mengatakan, “Seiring berjalannya hari, malam pun terus berjalan”. Tidak jarang orang menemukan inspirasi dan ungkapan yang baik dalam mimpi mereka. Freud percaya bahwa mimpi mencerminkan konten yang umumnya merupakan simbol dari keinginan seseorang, sementara penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa mimpi dapat melibatkan semua aspek dan mungkin berhubungan dengan pertimbangan siang hari, reaksi emosional, ketidaknyamanan fisik, orientasi seksual dan banyak aspek lainnya. Ini bukan “kebalikan dari kenyataan”, seperti yang dikatakan beberapa orang, tetapi sering kali, melalui kerja alam bawah sadar, isinya menjadi lebih halus dan simbolis, mencerminkan makna sebenarnya dalam bentuk atau episode yang berbeda. Misalnya, orang sering bermimpi bahwa mereka perlahan-lahan terbang di langit, tetapi arti sebenarnya dari mimpi itu sebenarnya adalah kebutuhan akan seks. Sebagian orang sering mengalami mimpi dan mimpi buruk, yang bisa terkait dengan penyakit fisik, gangguan mental dan lingkungan. Nyeri fisik, sesak napas, jantung berdebar-debar, kegelisahan, dan sering buang air kecil, semuanya dapat menyebabkan mimpi yang sesuai. Jika Anda sering memimpikan konten yang tidak menyenangkan seperti rasa sakit dan perceraian, Anda mungkin harus waspada terhadap penyakit fisik atau mental seperti masalah jantung. Seperti yang dapat dilihat, mimpi sangat reaktif dan dapat mengintegrasikan banyak perbedaan dalam konten. Dalam mimpi, kita dengan mudah mempercayai episode mimpi tanpa pernah meragukannya, dan bertindak tanpa rasa malu, sebagian besar melupakannya dengan cepat setelah bangun tidur, semua ini berkaitan dengan fungsi neuron aminergik di otak kita, yang paling tidak aktif selama tidur. Yang lain memiliki pengalaman bahwa beberapa mimpi diingat dan yang lainnya tidak. Hal ini ada hubungannya dengan waktu mimpi. Umumnya mimpi yang terbangun selama periode REM dapat diingat dengan jelas, semakin dekat waktu bermimpi dan waktu terbangun, semakin jelas ingatannya, dan sebaliknya semakin samar. Dari sini kita dapat melihat bahwa meskipun isi mimpi bervariasi, ada hubungan sistematis antara mimpi dan pikiran terjaga. Bermimpi memungkinkan aktivitas mental kita untuk menjembatani kesenjangan antara terjaga dan tidur. Tetapi kita juga harus menyadari bahwa masih ada jalan panjang yang harus dilalui sebelum kita bisa mendapatkan pemahaman yang mendalam tentang mekanisme fisiologis bermimpi.