Anak-anak bermain tanpa alas kaki tidak hanya karena rasa ingin tahu tetapi juga sebagai bentuk latihan. Di Jepang, ‘bertelanjang kaki’ telah menjadi mata pelajaran resmi dan sekarang diajarkan di sekolah-sekolah nasional. Sebagai contoh, taman kanak-kanak terkenal yang terhubung dengan Universitas Aichi telah menghabiskan lebih dari 7 juta yen untuk membongkar lantai beton di halaman dan menggantinya dengan pasir sehingga anak-anak dapat bermain di atas pasir sepuasnya. Mengapa Jepang memberikan lampu hijau bagi anak-anak untuk bertelanjang kaki? Karena latihan bertelanjang kaki dapat memberikan manfaat yang besar bagi perkembangan fisik dan intelektual anak. Kontribusi terbesar dari latihan bertelanjang kaki adalah membantu meningkatkan otak dan kecerdasan anak. Kaki adalah organ motorik yang terdiri dari tulang, otot, tendon, pembuluh darah, saraf, dan jaringan lainnya. Terdapat 66 titik akupunktur di kedua kaki, banyak di antaranya terhubung ke organ dalam, terutama otak, dan memiliki titik-titik reaksi saraf, yang secara medis dikenal sebagai zona refleks kaki. Anak-anak yang sering beraktivitas tanpa alas kaki, dapat merangsang dan menggairahkan reseptor ujung saraf yang padat di telapak kaki, melalui umpan balik saraf pusat, memainkan fungsi pengaturan organ-organ tubuh, termasuk otak, sehingga meningkatkan kepekaan berpikir dan daya ingat otak. Akibatnya, para ilmuwan telah mengajukan gagasan “untuk membuat kepala cerdas, berjalanlah 10.000 langkah sehari”. Kedua, kebugaran Metabolisme anak-anak kuat, kapiler kulit kaki dan saraf tepi sangat kaya. Jika mereka memakai sepatu sepanjang hari, mereka akan merasa sangat tidak nyaman. Anak-anak aktif dan memiliki banyak kaki berkeringat, dan sepatu basah mudah tumbuh dan berkembang biak kuman, yang dapat menyebabkan radang jaringan lunak kaki anak-anak. Olahraga tanpa alas kaki dapat menghindari kelemahan sepatu dan kaus kaki ini dan, dalam berbagai tingkat, penyakit kaki seperti kurap, jagung, dan radang jaringan lunak kaki. Pada saat yang sama, membiarkan telapak kaki anak-anak yang lembut bersentuhan langsung dengan kotoran dan kerikil tidak hanya bermanfaat bagi perkembangan kulit di telapak kaki, meningkatkan kekuatan otot dan ligamen di telapak kaki, tetapi juga membantu membentuk lengkungan kaki, menghindari atau mengurangi terjadinya kaki rata, yang mirip dengan aerobik kaki. Pada saat yang sama, olahraga tanpa alas kaki juga merupakan titik akupresur yang baik untuk jari-jari kaki dan telapak kaki, yang dapat berperan dalam “memperkuat limpa dan perut untuk menghilangkan penumpukan, memperkuat jantung dan pikiran, mengencangkan ginjal dan memperkuat tulang dan mata, mengencangkan sumsum dan bermanfaat bagi otak dan telinga”, dan memiliki efek unik pada pengobatan enuresis, diare, sembelit, dan chilblains pada anak-anak. Dengan demikian, mengizinkan anak-anak bermain tanpa alas kaki secara teratur memang merupakan kegiatan yang bermanfaat yang “mengintegrasikan kesehatan dengan rekreasi”. Metode latihan bertelanjang kaki harus dipilih sesuai dengan usia anak: dari usia 1 hingga 1,5 tahun, anak dapat dilatih di tempat tidur; dari usia 1,5 tahun dan seterusnya, tas kain dapat diisi dengan kerikil halus dan anak dapat ditopang untuk berjalan tanpa alas kaki di atasnya; setelah usia 2 atau 3 tahun, anak dapat diajak berjalan di lantai dalam ruangan; pada usia 4 atau 5 tahun, anak dapat diajak berjalan tanpa alas kaki di atas rumput atau pasir yang bersih. Tentu saja, seperti halnya bentuk-bentuk olahraga lainnya, keselamatan tidak boleh diabaikan. Misalnya, jalan setapak harus lurus, rata dan bersih, dengan permukaan berpasir yang lembut dan kokoh untuk mencegah kontaminasi tanah dan benda tajam yang menusuk kaki bayi.