Terdapat dua jenis degenerasi makula terkait usia (AMD), yaitu jenis “basah” dengan neovaskularisasi subretina dan jenis “kering” dengan atrofi seperti peta. Prognosis AMD “basah” lebih buruk, dan pencegahan serta pengobatannya merupakan fokus utama penelitian mata. Pengobatan yang efektif untuk AMD masih sangat kurang. Beberapa tahun yang lalu, fotokoagulasi retina laser (PDT) diperkenalkan untuk mencegah kehilangan penglihatan pada AMD “basah”. Fotokoagulasi mengurangi perdarahan subretina dan mencegah epitel pigmen retina serta ablasi neuroretina, penebalan retina, dan jaringan parut sekunder pada retina sentral. Namun, tingginya angka kekambuhan neovaskularisasi subretina setelah pengobatan dengan fotokoagulasi retina membuat pengobatan ini tidak memuaskan. Selain itu, uji klinis untuk mencegah atau menunda AMD dengan terapi suplementasi antioksidan dan seng telah dilakukan. Namun, terapi ini tidak efektif dalam perkembangan lesi AMD dini. Dalam beberapa tahun terakhir, suntikan intravitreal faktor pertumbuhan endotel vaskular (VEGF) terbukti efektif pada beberapa pasien dengan AMD basah. Sebagai perwakilan dari obat tersebut, Lucentis telah disetujui untuk penggunaan klinis. Dibandingkan dengan plasebo, Lucentis dapat memperbaiki penglihatan hingga 33,8 persen pada beberapa pasien. Namun, terapi anti-VEGF masih memiliki kekurangan: setelah pengobatan Lucentis, hanya 1/3 pasien yang mengalami perbaikan penglihatan, dan sekitar 1/6 lainnya terus kehilangan penglihatan dan menjadi buta. Fakta-fakta ini menunjukkan bahwa strategi anti-VEGF tidak cukup untuk mengobati semua pasien AMD basah. Selain itu, pengobatan Lucentis mahal dan membutuhkan suntikan dalam jangka panjang. Kekurangan di atas perlu segera diperbaiki, dan pemecahan masalah ini akan menjadi topik hangat dalam penelitian tentang AMD. Diperkirakan bahwa masalah ini akan terpecahkan dalam dekade mendatang, dan pengobatan AMD baru yang efektif yang dapat mengatasi gejala dan akar penyebabnya akan muncul.