Apa saja manifestasi dari Gangguan Stres Pasca Trauma

Manifestasi yang paling khas dari PTSD adalah kambuhnya berbagai bentuk pengalaman traumatis yang mengganggu (pengalaman ulang yang patologis) setelah kejadian traumatis yang besar. “Pengalaman berulang” ini sering kali dilakukan dengan cara yang sangat jelas dan sangat menyusahkan, termasuk mengalami kembali kejadian traumatis secara berulang dalam bentuk delusi dan halusinasi (kilas balik). Dalam kasus ini, pasien tampak sepenuhnya hadir pada saat kejadian traumatis dan mengekspresikan kembali emosi yang terkait dengan kejadian tersebut. Pasien sering mengalami tekanan psikologis dan reaksi fisiologis yang intens ketika mereka dihadapkan pada peristiwa, situasi, atau isyarat lain yang terkait atau mirip dengan peristiwa traumatis. Pasien sering mengalami mimpi yang sangat jelas (mimpi buruk) yang secara jelas terkait dengan peristiwa traumatis. Dalam mimpi tersebut, pasien juga mengalami pengulangan adegan yang berkaitan erat dengan kejadian traumatis dan menghasilkan pengalaman emosional yang mirip dengan kejadian tersebut. Pasien sering terbangun dari mimpi dan terus secara aktif ‘melanjutkan’ adegan yang ‘terputus’ setelah terbangun, dengan pengalaman emosional yang intens. Setelah kejadian traumatis, pasien mengadopsi sikap menghindar yang terus-menerus terhadap objek yang berhubungan dengan trauma. Penghindaran ini tidak hanya mencakup adegan tertentu tetapi juga pikiran, perasaan, dan topik terkait. Pasien enggan menyebutkan peristiwa tersebut, menghindari percakapan terkait, dan bahkan mengalami “amnesia selektif”. Pasien tampaknya ingin “menghapus” “peristiwa traumatis” ini dari ingatannya. Setelah kejadian traumatis, banyak pasien juga menderita ‘kelumpuhan emosional’. Secara eksternal, pasien mungkin tampak acuh tak acuh, acuh tak acuh, menjauh, tidak ramah, takut, merasa bersalah, atau tidak mau berinteraksi secara emosional dengan orang lain. Pasien sendiri merasa seolah-olah mereka mengalami kesulitan untuk menaruh minat pada apa pun, dan kegiatan yang dulu mereka sukai tidak lagi merangsang emosi mereka. Mereka merasa jauh, terisolasi, atau bahkan tidak berada di tempat dari dunia luar, mengalami kesulitan untuk menerima atau mengekspresikan emosi yang lembut, kurang berpikir dan merencanakan masa depan, bergantung pada takdir, atau bahkan merasa bahwa hidup lebih buruk daripada mati. Selain itu, beberapa pasien mengalami gejala hiperwaspadaan seperti gangguan tidur, mudah tersinggung, mudah takut dan kurang perhatian. Sebagian besar pasien mengalami gejala-gejala tersebut dalam beberapa hari hingga enam bulan setelah kejadian traumatis dan biasanya kembali normal dalam waktu satu tahun, sementara beberapa pasien dapat bertahan selama bertahun-tahun atau bahkan seumur hidup.