Beberapa pasien kanker payudara juga memerlukan pembedahan setelah kemoterapi untuk mengendalikan perkembangan penyakit dan meningkatkan kualitas hidup. Untuk sebagian pasien kanker payudara yang menjalani kemoterapi pra-operasi (kemoterapi neoadjuvan), pembedahan biasanya diperlukan setelah kemoterapi. Kemoterapi pra-operasi umumnya dapat mengurangi ukuran lesi yang terlokalisasi untuk memfasilitasi reseksi bedah, sementara obat kemoterapi juga dapat membunuh lesi metastasis yang potensial, sehingga mengurangi risiko kambuhnya kanker payudara dan metastasis. Sementara itu, bagi sebagian pasien kanker payudara yang telah kehilangan kesempatan untuk menjalani pembedahan, kemoterapi juga dapat mengurangi ukuran lesi sebelum pembedahan. Karena obat kemoterapi bersifat sitotoksik, beberapa pasien rentan terhadap efek samping toksik setelah pengobatan, seperti mual dan muntah, rambut rontok, penekanan sumsum tulang, dan lain-lain. Pasien kanker payudara disarankan untuk memilih pilihan pengobatan yang tepat, seperti radioterapi, terapi endokrin, terapi target, dll., sesuai dengan kondisi mereka sendiri dan setelah penilaian oleh dokter, untuk mengurangi kekambuhan dan memperpanjang waktu bertahan hidup. Pasien kanker payudara juga harus menjaga kesehatan tubuh dan pikiran mereka, berkomunikasi dengan orang lain lebih sering, dan mencari psikoterapi bila diperlukan.