Malformasi genetik telah lama dianggap sebagai penyebab utama kanker, tetapi sebuah penelitian baru menemukan bahwa ketidakseimbangan protein dalam sel dapat memicu kanker. Para ilmuwan menyebutnya sebagai terobosan besar yang menjelaskan mekanisme non-genetik kanker. Temuan yang dipublikasikan di Oncogene ini menggambarkan bagaimana disregulasi protein merupakan alat prediksi kanker yang kuat yang dapat menentukan apakah seorang pasien merespons kemoterapi atau apakah tumor telah menyebar ke tempat lain. Temuan ini membuka pintu bagi terapi kanker baru yang menargetkan pengukuran dan pencegahan ketidakseimbangan sel. Ketidakseimbangan dua protein memicu kanker Dalam kondisi normal, sel menerima sinyal eksternal melalui reseptor pengikat dinding sel (FGFR2). Setelah dirangsang, reseptor ini diaktifkan di dalam sel, yang memulai pemberian sinyal protein dan jalur protein kinase untuk proliferasi sel. Pada beberapa sel kanker, jalur ini diaktifkan secara permanen. Cara tradisional untuk mendiagnosis kanker adalah dengan mencari reseptor yang dimodifikasi secara genetik yang bertanggung jawab untuk menjaga agar jalur protein seluler tetap aktif. Tim ilmiah yang dipimpin oleh University of Leeds dan University of Texas MD Anderson Cancer Center, berfokus pada ‘jalur sinyal AKt’ – jalur protein kinase, jalur sinyal intraseluler yang mendorong pembentukan kanker dan penyebaran tumor secara in vivo. Mengamati perubahan pada sel kanker tanpa adanya rangsangan eksternal mengungkapkan bahwa “jalur pensinyalan AKt” dapat diaktifkan tanpa adanya modifikasi genetik, dengan dua protein, Plcy1 dan Grb2, yang bersaing untuk mengikat reseptor FGFR2, dengan konsentrasi relatif protein menentukan protein mana yang pada akhirnya menang dalam persaingan. Ditemukan bahwa ketika kadar Plcy1 tinggi, jalur pensinyalan AKt dipicu. Dengan cara ini, ketidakseimbangan antara kedua protein tersebut dapat menyebabkan proliferasi sel kanker dan pembentukan tumor. Skrining gen tunggal masih jauh dari cukup – faktor non-genetik atau kunci untuk memahami kanker Mengurutkan genom manusia telah menjadi investasi yang sangat besar, dan selalu ada pemikiran bahwa jika kita mengetahui semua informasi genetik, kita bisa memprediksi risiko kanker dan akhirnya mengobatinya dengan terapi yang dikembangkan berdasarkan pengobatan presisi. Namun, penelitian kami menunjukkan bahwa skrining gen tunggal tidaklah cukup. Penelitian sebelumnya telah menekankan bahwa akar penyebab kanker adalah mutasi genetik. Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa perkembangan kanker tidak dipengaruhi oleh faktor genetik, misalnya tidak oleh modifikasi epigenetik protein. Namun, penelitian ini menunjukkan bahwa reseptor dapat mengirimkan sinyal bahkan ketika tidak diaktifkan, sehingga faktor non-genetik mungkin menjadi kunci untuk memahami kanker.