Batu feses apendiks tidak dapat disiram dengan enema. Diperlukan tindakan konservatif atau pembedahan, dengan mempertimbangkan kondisi spesifik pasien. Pembentukan batu feses apendiks terkait dengan anatomi khusus apendiks. Dalam kehidupan sehari-hari, jika pasien mengalami diare atau makan dengan tidak benar, sisa makanan akan membentuk batu feses, yang dapat masuk ke dalam lumen usus buntu bersama dengan gerakan peristaltik usus, dan disebut batu feses usus buntu. Karena usus buntu adalah organ yang tidak terlihat dalam tubuh manusia, dan lumen usus buntu berukuran kecil, dengan diameter beberapa milimeter, maka sisa makanan yang masuk ke dalam lumen usus buntu disebut faecolith. Faecolith apendiks dapat terbentuk ketika sisa makanan masuk ke dalam lumen apendiks dan tidak dapat dikeluarkan. Dari segi lokasi dan efek enema, enema tidak dapat membersihkan batu feses apendiks. Keberadaan batu feses apendiks dapat menyebabkan peningkatan tekanan pada lumen apendiks, yang dapat menjadi predisposisi perkembangan apendisitis akut dan kronis. Secara klinis, perlu menggunakan natrium ceftriaxone intravena, levofloxacin dan antibiotik lain untuk menghilangkan peradangan, dan operasi pengangkatan usus buntu dianjurkan. Namun, enema tidak efektif dalam pengobatan radang usus buntu akibat impaksi feses. Oleh karena itu, ketika usus buntu didiagnosis, maka harus ditangani dengan segera dan efektif seperti yang diresepkan oleh dokter.