Terlalu banyak berita negatif dapat memberikan dampak yang buruk. Orang-orang yang berada dalam situasi tegang dan penuh tekanan cenderung kehilangan rasa aman, dan jika emosinya tidak dilampiaskan dengan baik, hal ini dapat menimbulkan sikap defensif yang berlebihan atau perilaku agresif. “Ketika kebenaran masih mengenakan sepatu, rumor sudah menyebar ke mana-mana.” Ini berbicara tentang mentalitas bahwa orang mudah tertarik dengan berita negatif dan dengan senang hati menyebarkannya, sementara mereka tidak terlalu tertarik dengan laporan positif. Mentalitas ini disebut “sindrom berita buruk”. Para ahli mengingatkan bahwa terlalu suka mendengar berita buruk, senang menyebarkan rumor sebenarnya adalah penyakit psikologis. Berita buruk mengurangi stres tetapi merangsang agresi Sebuah laporan tentang kebiasaan pengguna Internet di negara-negara Asia-Pasifik, yang dirilis oleh Nielsen, sebuah perusahaan riset pasar terkemuka, mengatakan bahwa sekitar 62 persen pengguna Internet di Tiongkok mengatakan bahwa mereka lebih bersedia untuk membagikan komentar negatif, dibandingkan dengan 41 persen pengguna Internet global. Di sisi lain, selain faktor kebaruan, ada juga faktor seperti stres dan mentalitas kawanan. Beberapa berita buruk memiliki konten yang berkaitan dengan kehidupan atau pekerjaan, dan ketika orang merasa tidak bahagia, melihat berita negatif dapat menjadi cara untuk menghibur diri dan melepaskan stres. Para ahli mengatakan, “Beberapa orang melihat berita negatif seolah-olah mereka mendengarkan kata-kata buruk seseorang di belakang mereka, dan mereka bahkan mungkin merasakan rasa superioritas seolah-olah mereka telah diperingatkan sebelumnya.” “Adanya berita negatif, seperti berita keamanan pangan, dapat membantu masyarakat untuk melindungi diri mereka sendiri dengan lebih baik.” Para ahli menunjukkan, “Namun, dalam hal kesehatan mental, terlalu banyak berita negatif dapat berdampak buruk. Orang-orang yang berada dalam kondisi tegang dan bertekanan tinggi cenderung kehilangan rasa aman, dan jika emosinya tidak dilampiaskan dengan baik, hal ini dapat menyebabkan perilaku defensif atau agresif yang berlebihan.” Tiga formula yang baik untuk mengatasi sindrom berita buruk Para ahli mengingatkan bahwa untuk berita buruk, di satu sisi, harus dilihat secara obyektif, wajah yang sebenarnya. Di sisi lain, jangan membuang terlalu banyak energi untuk terlalu memperhatikan hal-hal ini. Untuk orang-orang yang rentan terkena “sindrom berita buruk”, para ahli membuka beberapa “resep”: Pertama, perbanyak komunikasi dengan teman dan keluarga, agar tekanan dan emosi buruk lainnya ada pelampiasannya. Kedua, lebih banyak berolahraga, olahraga dapat membuat tubuh mengeluarkan hormon endorfin, menghasilkan rasa senang. Ketiga, lebih banyak berpartisipasi dalam kegiatan kesejahteraan masyarakat untuk meningkatkan rasa harga diri.