Telah dikatakan bahwa konselor adalah ‘tempat sampah’ karena ia harus menerima berbagai macam emosi negatif dari klien yang berbeda. Oleh karena itu, supervisi psikologis adalah proses membersihkan ‘tempat sampah’. Analogi ini, meskipun lebih grafis, namun bias. Analogi ini menempatkan konselor pada posisi pasif, padahal seorang konselor yang terlatih secara profesional seharusnya berperan sebagai ‘pengolah’. Konselor ada untuk membantu pengunjung mengatasi masalahnya, bukan untuk mengambil alih semua masalahnya dan menjadikannya masalahnya sendiri. Pada saat yang sama, konselor juga harus menangani masalahnya sendiri, dan ketika seorang pengunjung memiliki masalah yang sama dengan masalahnya, ia harus jelas tentang masalah mana yang menjadi masalah pengunjung dan mana yang menjadi masalahnya, dan menarik garis yang jelas untuk melindungi ruang psikologisnya agar tidak dilanggar. Konselor tidak boleh memikirkan masalahnya sendiri, tetapi harus 100% melayani klien, dan sepenuhnya ‘membantu’. Namun, sebuah “mesin pengolah” bukanlah “mesin yang cocok untuk semua orang”. “Membantu orang untuk membantu diri mereka sendiri” adalah hal yang dicita-citakan oleh setiap konselor, namun dalam praktiknya, para konselor pasti ingin mendidik orang lain dan membimbing mereka dalam mengatasi masalah mereka. Ungkapan favorit dari banyak klinisi adalah: “Jangan terlalu sedih! Jangan terlalu tidak bahagia!” dan sangat suka mengatakan, “Tidak apa-apa, jangan menangis!” . Hal ini sangat sesuai dengan budaya Timur. Dalam budaya Timur, diyakini bahwa “tujuh emosi dan enam keinginan menyakiti tubuh”, jadi ketika Anda melihat seseorang sedih, Anda menasihati mereka untuk tidak bersedih, yang merupakan suatu bentuk penghiburan. Namun, bagi para konselor, terutama psikolog, hal ini tidak tepat. Menyuruh pengunjung untuk tidak bersedih sama saja dengan menyuruh orang yang lapar dan tidak punya makanan untuk berhenti merasa lapar, karena itulah alasan pengunjung tersebut datang ke konseling. Seorang anggota keluarga atau teman dapat mengatakan hal ini, tetapi jika seorang profesional yang mengatakannya, reaksi pertama pengunjung adalah “Anda tidak menerima emosi saya”. Sebaliknya, kata-kata empati yang tulus yang menggambarkan emosinya akan memberinya rasa rileks dan penerimaan, dan sisa konsultasi akan mengalir dengan lancar. Oleh karena itu, seorang ‘pawang’ yang baik harus memiliki fungsi empati yang baik. Tentu saja, ‘pemroses’ juga akan menemukan masalah yang tidak dapat ditangani dan hal ini dapat dialihkan kepada orang lain.