Secara umum, sayuran segar yang dimasak dengan benar tidak menyebabkan kanker, tetapi penyimpanan atau metode memasak yang tidak tepat tidak dapat dikesampingkan untuk menghasilkan karsinogen. Sayuran adalah salah satu kelompok makanan yang harus kita konsumsi setiap hari, yang dapat memberikan serat makanan, vitamin dan mineral bagi tubuh, dan asupan harian yang direkomendasikan untuk orang dewasa adalah 300 hingga 500 gram. Namun, jika sayuran disimpan dan dimasak dengan cara yang salah, sayuran dapat menghasilkan zat karsinogen. 1. Penyimpanan: Sayuran yang berjamur dapat menghasilkan aflatoksin. Aflatoksin sering muncul di permukaan bahan yang berjamur seperti jagung, kacang-kacangan, kacang tanah, dan biji melon. Jumlah pada permukaan sayuran berjamur relatif kecil, tetapi kemungkinan ini tidak dapat dikesampingkan. Aflatoksin adalah faktor risiko penting untuk kanker hati. Pada saat yang sama, sayuran yang membusuk dan busuk mudah melepaskan nitrit, yang juga merupakan salah satu karsinogen, mudah memicu kanker kerongkongan, kanker perut. 2. Cara memasak: Sayuran dapat menghasilkan zat karsinogenik selama proses memasak. Sayuran dengan kandungan protein tinggi akan menghasilkan benzo (a) pyrene saat dimasak pada suhu tinggi, yang merupakan karsinogen kelas 1. Hal ini paling sering ditemukan pada daging panggang. Sayuran dipanggang pada tingkat yang jauh lebih rendah daripada daging panggang. Sayuran yang kaya akan pati dapat menghasilkan karsinogen akrilamida ketika dipanggang pada suhu tinggi, seperti kentang panggang dan ubi jalar panggang. Perlu juga dicatat bahwa sayuran mungkin disemprot dengan pestisida selama proses penanaman, dan harus dicuci sebelum dikonsumsi untuk menghindari residu pestisida yang mungkin berbahaya bagi kesehatan. Kesimpulannya, sayuran harus dikonsumsi saat masih segar dan dimasak dengan suhu rendah.