1. Variasi dan jumlah makanan 1. Produk susu: 350-500mI per hari (termasuk yoghurt atau keju), susu formula direkomendasikan untuk anak di bawah 2 tahun yang tidak dapat melanjutkan pemberian ASI. 2. Variasi dan jumlah makanan: Diversifikasi, promosikan makanan alami dan diet seimbang, konsumsi satu butir telur, 50g makanan hewani, 100-150g sereal, 150-200g sayuran, 150-200g buah, dan 20-25g minyak nabati per hari. 3. Perhatian pola makan: Anak-anak harus makan makanan rumahan dengan ukuran yang sesuai, tekstur sedikit lembut, sedikit garam dan mudah dicerna, hindari memberikan makanan yang digoreng, kurangi makan cepat saji, dan kurangi minum. Hindari makan gorengan, kurangi makan makanan cepat saji dan kurangi minum minuman manis, termasuk minuman asam laktat. 4. Pengaturan pola makan: Pola makan harian dapat diatur dengan tiga kali makan utama, dua atau tiga kali makanan ringan yang mengandung susu dan makanan ringan yang bergizi, dan makanan ringan yang terkontrol di antara waktu makan. Orang tua bertanggung jawab untuk menyediakan makanan sehat yang aman, bergizi, mudah dicerna, dan lezat bagi anak-anak, sehingga mereka dapat menentukan berapa banyak yang akan dimakan, makan secara teratur, dan membiarkan anak-anak merasakan rasa lapar dan kenyang. 1. Gaya Makan: Pada usia 12 bulan, anak-anak harus mulai berlatih makan sendiri dengan menggunakan alat makan untuk mengembangkan kemandirian dan kemampuan untuk merespons dengan benar. Anak usia 1-2 tahun harus berbagi makanan dan didorong untuk makan sendiri, setelah usia 2 tahun anak-anak harus makan secara mandiri. 2. Perilaku makan: Makanan harus dimakan secara teratur, teratur, terukur, dan menyenangkan, dengan setiap kali makan berlangsung selama 20-30 menit. hindari bermain atau menonton TV saat makan, jangan mengejar-ngejar waktu makan, dan jangan menggunakan botol untuk minum susu. Perilaku makan orang tua memiliki dampak yang lebih besar pada anak kecil. Hindari pemberian makan secara paksa dan berlebihan untuk mencegah anak menolak makan, pilih-pilih makanan, dan makan berlebihan. Orang tua harus mengurangi makanan berlemak dan bergula tinggi, makanan cepat saji, minuman bersoda, dan minuman manis. 3. Persiapan makanan: Makanan harus diproses secara terpisah dan dimasak terutama dengan cara dikukus, direbus, direbus atau ditumis, dengan memperhatikan warna, aroma, dan rasa makanan. Anak-anak dapat dilibatkan dalam proses persiapan makanan untuk meningkatkan minat mereka terhadap makanan. 4. Minum air dalam jumlah yang tepat: Jumlah air harus ditentukan sesuai dengan musim dan jumlah aktivitas anak-anak, menggunakan air putih dan cangkir, selama tidak mempengaruhi asupan susu dan makanan sehari-hari. Cara terbaik bagi anak-anak untuk belajar makan sendiri adalah dengan duduk bersama saat makan bersama keluarga. Hindari mengintimidasi, menegur, dan memarahi anak saat makan. 1. Pemilihan makanan: Hindari memberikan anak di bawah 3 tahun makanan yang dapat dengan mudah menyebabkan tersedak dan cedera, seperti permen dan buah berbentuk bulat kecil, kacang-kacangan, agar-agar, berondong jagung, permen karet, serta ikan dan daging yang bertulang dan berduri. 2. Kebersihan makanan: Proses menyiapkan dan mengawetkan makanan untuk bayi dan anak kecil perlu memastikan bahwa makanan, peralatan makan, dan air bersih dan higienis. Baik anak-anak maupun pengasuh harus mencuci tangan mereka sebelum menyiapkan dan memberi makan makanan, dan menyediakan makanan segar bagi anak-anak untuk menghindari kontaminasi makanan. Makanan hewani seperti daging dan ikan harus dimasak untuk membunuh bakteri berbahaya. Makanan yang berlebih harus dipanaskan untuk menghindari kontaminasi, makanan padat harus dipanaskan secara menyeluruh dan makanan cair harus direbus. 3. Penyimpanan makanan: Makanan harus segera dikonsumsi setelah disiapkan dan hindari makanan yang dibiarkan terlalu lama, terutama pada suhu kamar. Makanan sisa harus disimpan di lemari es, ditutup dan disegel, untuk memperlambat reproduksi bakteri.