Mengapa bayi baru lahir mengalami gangguan pendengaran?
Ada banyak faktor yang dapat menyebabkan gangguan pendengaran pada bayi baru lahir, seperti: riwayat infeksi intrauterin: sitomegalovirus; virus rubella; herpes; sifilis; toksoplasmosis, dll. Paparan obat ototoksik selama kehamilan, seperti gentamisin, obat teratogenik, seperti reactive stop, atau sinar Bayi prematur, usia kehamilan <32 minggu dengan berat badan lahir <1500 gram Riwayat kondisi neonatal: riboflavin (hiperbilirubinemia);
iskemia dan hipoksia Ensefalopati, cerebral palsy dengan sindrom yang meliputi tuli sensorineural dan/atau konduktif, misalnya anomali craniomaxillofacial Riwayat trauma kepala saat lahir, termasuk cedera tang Lesi infeksi yang dapat menyebabkan tuli sensorineural setelah lahir, misalnya meningitis bakterialis Anggota keluarga yang mengalami ketulian permanen Ini semua merupakan faktor risiko tinggi gangguan pendengaran pada bayi baru lahir, dan harus diperhitungkan oleh keluarga jika bayi baru lahir mengalami kondisi-kondisi tersebut.
Mengapa pemeriksaan pendengaran bayi baru lahir perlu dilakukan?
Masa bayi dan masa kanak-kanak awal, terutama sebelum usia 3 tahun, merupakan masa kritis untuk belajar bahasa. Selama periode ini, ketulian, meskipun gangguan pendengarannya ringan, dapat menyebabkan gangguan bahasa dan bahkan keterbelakangan mental pada anak-anak, sehingga menyebabkan defisit dalam interaksi psikologis dan perilaku mereka. Intervensi dalam enam bulan pertama kehidupan pada bayi dan anak-anak dengan gangguan pendengaran, dapat memberikan hasil pengobatan yang lebih baik. Oleh karena itu, hanya dengan identifikasi dini mengenai ada atau tidaknya gangguan pendengaran pada anak, maka akan dapat memberikan penanganan dini yang tepat, sehingga dapat meminimalisir dampak buruk dari gangguan pendengaran dan mengubah kehidupan anak tunarungu tersebut.
Metode pemeriksaan pendengaran bayi baru lahir:
Metode pemeriksaan pendengaran bayi baru lahir meliputi tes pendengaran subyektif dan tes pendengaran obyektif.
1. Tes pendengaran subjektif: Teknik audiometri perilaku pediatrik
2. Tes pendengaran objektif: Emisi otoakustik (OAE), Respons batang otak pendengaran (ABR), potensi korelasi 40Hz, pengujian impedansi akustik, kondisi tunak multi frekuensi (ASSR)
Bagaimana cara melakukan skrining pendengaran?
1. Tahap 1: Tahap Pemeriksaan Pendengaran
Pemeriksaan Awal: Pemeriksaan pendengaran selama rawat inap di rumah sakit saat lahir, teknik pemeriksaan: OAE
Pemeriksaan Ulang: Bayi baru lahir yang gagal dalam pemeriksaan awal saat rawat inap, akan diperiksa untuk kedua kalinya dalam waktu 42 hari setelah lahir, teknik pemeriksaan: OAE
2. Tahap 2: Tahap Diagnosis Gangguan Pendengaran
Bayi baru lahir yang gagal dalam pemeriksaan awal dan pemeriksaan ulang. Pemeriksaan audiologi diagnostik yang komprehensif diperlukan dalam waktu 3-6 bulan setelah lahir, termasuk: hantaran akustik, OAE, ABR, potensi korelasi pendengaran 40Hz, audiometri perilaku, dan tes lain yang relevan.
3. Tahap 3: Tindak Lanjut dan Intervensi
Anak-anak yang didiagnosis mengalami gangguan pendengaran, akan ditangani dan dikelola sesuai dengan hasil pemeriksaan lebih lanjut. Bayi baru lahir dengan faktor risiko tinggi mengalami gangguan pendengaran harus ditindaklanjuti setidaknya setiap enam bulan sekali selama tiga tahun, meskipun mereka telah lulus pemeriksaan pendengaran.
Singkatnya, jika bayi baru lahir gagal dalam tes, ia harus dites ulang sekitar 42 hari setelah lahir dan jika masih gagal, tes diagnostik untuk gangguan pendengaran dan penilaian medis harus dilakukan, dan jika diduga mengalami gangguan pendengaran, diagnosis umumnya harus dikonfirmasi dalam waktu 3 bulan setelah kelahiran anak agar dapat dilakukan intervensi medis lebih awal.
Apakah kegagalan dalam pemeriksaan awal berarti gangguan pendengaran sudah pasti ada?
Meskipun tes pendengaran saat ini sudah lebih canggih, hasil positif palsu masih dapat terjadi karena beberapa faktor yang mempengaruhi.
Metode berikut ini dapat digunakan untuk meningkatkan keakuratan tes skrining sebagai respons terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi ini.
1. Bersihkan sekret dari liang telinga luar Bersihkan sekret dari liang telinga luar dengan penyeka kapas sebelum melakukan skrining
2. Buatlah anak tertidur atau diam sebisa mungkin
3. Periksa status instrumen yang digunakan sebelum melakukan skrining dan pilihlah penyumbat telinga dengan ukuran yang sesuai
Apakah lulus skrining awal berarti pendengarannya masih utuh?
Karena skrining OAE terutama mendeteksi fungsi sel rambut luar telinga bagian dalam, dan tidak sepenuhnya mencerminkan fungsi koklea dan jalur saraf pendengaran pasca koklea, maka bayi yang baru lahir dengan faktor risiko gangguan pendengaran, harus tetap diwaspadai adanya ketulian pasca koklea, meskipun mereka lulus skrining OAE. Dalam kasus seperti ini, keluarga harus menyadari perlunya memantau perkembangan bicara anak mereka setiap hari, dan segera mencari pertolongan medis jika ada kelainan yang terdeteksi atau dicurigai.