Metode pelatihan rehabilitasi pendarahan otak

Pelatihan rehabilitasi setelah terjadinya pendarahan otak termasuk dalam perawatan komprehensif, yang terutama mencakup terapi motorik, pelatihan sensorik, terapi kognitif, dan terapi wicara. 1. Terapi olahraga: meningkatkan kelenturan melalui latihan mobilitas sendi dan peregangan; memberikan transfer berat badan yang simetris untuk kedua tungkai bawah melalui latihan berjalan dengan mengurangi berat badan, sehingga membuat tungkai yang terkena dampak dapat menahan berat badan sedini mungkin, dan mengulangi latihan gaya berjalan yang lengkap. 2. Pelatihan sensorik: pasien dengan gangguan sensorik dapat menggunakan pelatihan sensorik khusus atau pelatihan korelasi sensorik untuk meningkatkan kemampuan sensorik mereka seperti persepsi taktil dan motorik-otot, seperti penggunaan rasa sakit, rangsangan taktil, rangsangan suhu bolak-balik dengan air es-hangat, dan memilih postur tubuh yang sesuai untuk penyaringan taktil objek fisik. 3. Terapi kognitif: Pelatihan rehabilitasi kognitif yang ditargetkan untuk pasien dengan penyakit stabil, seperti pelatihan kemampuan berhitung sederhana, pelatihan membaca gambar, dll., untuk meningkatkan fungsi kognitif secara komprehensif. 4. Terapi wicara: pasien dengan gangguan komunikasi harus diobati untuk gangguan fonologis dan semantik, dan dapat diberikan pelatihan perintah sederhana, pelatihan peniruan artikulasi otot mulut-wajah, dan pelatihan pengulangan pada tahap awal. Selain itu, perawatan manipulatif seperti akupunktur, tuina, pijat, perawatan faktor fisik seperti elektroterapi dan magnetoterapi, dan alat bantu seperti alat bantu jalan, alat ortopedi, dan kawat gigi, semuanya bermanfaat untuk pemulihan dari pendarahan otak. Disarankan agar pasien dengan pendarahan otak harus menjalani pelatihan rehabilitasi di bawah bimbingan dokter rehabilitasi sesegera mungkin setelah kondisinya stabil, dengan tujuan untuk memulihkan aktivitas kehidupan mereka semaksimal mungkin.