Riluzole dan aspirin memiliki keserbagunaan terapeutik

I. Riluzole dapat mengobati penyakit Alzheimer Riluzole adalah obat utama yang digunakan untuk mengobati penyakit Alzheimer (amyotrophic lateral sclerosis), dan baru-baru ini para peneliti di Rockefeller University di Amerika Serikat menemukan bahwa riluzole dapat mengubah aktivitas gen yang terkait dengan penurunan kognitif pada tikus tua. Menurut penelitian tersebut, yang diterbitkan dalam jurnal Inggris Molecular Psychiatry, riluzole dapat membalikkan gen yang bertanggung jawab atas memburuknya penyakit Alzheimer, yang perkembangannya terkait dengan penumpukan glutamat di otak yang dapat menyebabkan nekrosis saraf. Para peneliti mengatakan bahwa jika tikus yang lebih tua diberi obat, perubahan ekspresi gen EAAT2, yang terkait dengan kemampuan untuk menghilangkan kelebihan glutamat dari serabut saraf pada penyakit Alzheimer, dapat ditemukan. Karena gen ini menjadi kurang terekspresikan seiring bertambahnya usia hewan, aktivitas ekspresi gen EAAT2 pada tikus yang diberi obat ini tidak sebanding dengan tikus yang lebih muda. Obat ini saat ini telah disetujui oleh FDA untuk pengobatan sklerosis lateral amyotrophic, dan para peneliti sedang melakukan uji klinis untuk menguji keefektifannya pada otak pasien penyakit Alzheimer. Kedua, sering minum aspirin dapat mengurangi risiko kanker otak Situs web sains Amerika Serikat yang menarik melaporkan bahwa penelitian terbaru mengamati bahwa sering minum aspirin dapat mengurangi risiko jenis kanker otak tertentu. Para peneliti menemukan bahwa orang yang mengonsumsi aspirin secara teratur memiliki risiko glioma hampir 34 persen lebih rendah dibandingkan dengan mereka yang jarang mengonsumsi aspirin. Para peneliti membandingkan sekitar 4.000 orang dengan glioma dengan jumlah orang sehat yang sama dan menggunakan kuesioner untuk mengumpulkan data tentang riwayat penggunaan obat penghilang rasa sakit setiap orang. Mereka menemukan bahwa semakin lama seseorang mengonsumsi aspirin secara teratur, semakin rendah risiko terkena glioma. Rose Ley, seorang profesor neurologi di University of Southern California yang memimpin penelitian ini. Pengamatan ini mirip dengan temuan studi antara penggunaan aspirin dan risiko kanker usus besar, kata Lay. Aspirin adalah obat antiinflamasi yang menghambat senyawa dalam tubuh yang disebut siklooksigenase-2, yang menyebabkan peradangan dalam tubuh, menurut Lay. Lay mencatat bahwa siklooksigenase-2 mungkin berperan dalam pertumbuhan glioma, dan bahwa siklooksigenase-2 juga dapat meningkatkan pertumbuhan tumor dengan membantu pembuluh darah untuk tumbuh dan dengan membantu tumor menghindari deteksi oleh sistem kekebalan tubuh. Selain itu, Lay menyebutkan bahwa penelitian pada hewan sebelumnya telah menunjukkan bahwa aspirin dapat menghentikan pertumbuhan glioma pada hewan.