Vulva sering kali berdekatan dengan uretra, vagina, dan anus, dan daerah setempat sering kali basah dan mudah bagi bakteri untuk berkembang biak, sehingga peradangan vulva rentan terjadi. Pasien umumnya menunjukkan gejala seperti gatal, nyeri, sensasi terbakar, kemerahan dan pembengkakan pada kulit vulva. Hal ini dapat didiagnosis dengan jelas melalui pemeriksaan ginekologi dan tes laboratorium.
1. Pemeriksaan ginekologi: misalnya, pemeriksaan alat kelamin wanita, pengamatan eksternal terhadap tingkat dan luasnya kemerahan dan pembengkakan pada vulva, apakah ada tekanan dan rasa sakit saat disentuh. Uretra dan vagina merah dan bengkak, dengan atau tanpa ulserasi dan organisme yang berlebihan.
2. Pemeriksaan laboratorium: terutama pemeriksaan sekresi vagina, untuk mengetahui apakah pasien terinfeksi, serta jenis agen penularnya. Atau pengukuran pH vagina untuk memperjelas apakah peradangan vulva merupakan peradangan sekunder pada vagina atau menyebabkan vaginitis.
Ketika ketidaknyamanan vulva terjadi, disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter tepat waktu, mengikuti instruksi dokter untuk melakukan pemeriksaan yang relevan, di bawah bimbingan dokter untuk mengklarifikasi penyebabnya, dan untuk melakukan pengobatan atau terapi yang ditargetkan.